(MAJALAHKISAHNYATA.Com), SUKOHARJO – Beberapa tumpeng sederhana disajikan dalam sebuah upacara selamatan sakral. Tak hanya itu, sebuah song-song atau payung keramat juga disiapkan untuk puncak upacara. Konon, upacara tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali kebesaran dan spirit kerjaaan Mataram Pajang. Lalu seperti apa prosesinya?
Setiap malam Jumat, khususnya menjelang bulan Suro, dilakukan acara wilujengan atau selamatan di Patilasan Kraton Pajang. Atau sebuah tempat keramat, di Dusun Sonojiwan, Desa Makam Haji, Kartosuro, Sukoharjo, Jateng.
Tempat itu dipercaya atau diduga merupakan sisa Kraton Kasultanan Pajang di dari masa silam. Bahkan sudah dinyatakan statusnya sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi. Beberapa tokoh masyarakat, serta pihak-pihak yang peduli dengan pelestarian budaya di sana selalu mengadakan acara wilujengan tersebut.

Seperti pada Malam Jumat (11/06/2026), acara wilujengan digelar dengan prosesi yang sederhana. Namun ada prosesi yang cukup berbeda. Yaitu diakhiri dengan ritual mengganti Payung Agung, atau Song-Song Agung Tunggul Rojo. Dimana song-song tersebut selama ini menjadi simbol dari kebesaran kerajaan atau Kraton Pajang.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami mengadakan acara wilujengan di malam Jumat Kliwon. Namun kali ini sekalian mengganti Song-Song Agung Kraton Pajang,” ungkap Raden Bambang Sidaya SE, salah satu tokoh Pelestari Budaya dari Trah Kasultanan Pajang.
Ditambahkannya, setiap tahun pihaknya selalu mengadakan acara Kirab Budaya dalam rangka mengganti Song-Song Agung tersebut. Terutama saat menjelang Bulan Suro. Namun khusus tahun ini, karena faktor teknis, maka Kirab Budaya ditiadakan.
Walau begitu ritual sakral mengganti song-song Agung tetap dilakukan. Sehingga dalam acara Wilujengan Mapag Bulan Suro itulah, prosesi ganti Song-song Agung sekalian dilakukan.

“Walaupun dengan acara yang sederhana, namun niat kami tetap iklas untuk tetap nguri-nguri budaya, terutama dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur dari leluhur kami dalam trah Kasultanan Pajang,” lanjut Bambang lagi.
Prosesi pergantian Song-song dilakukan setelah beberapa ritual inti dari wilujengan tersebut selesai. Walaupun terlihat sederhana, namun prosesi ganti song-song justru tampak lebih sakral. Apalagi suasana malam hari yang semakin wingit, semakin menambah kesakralan prosesi mengganti payung keramat tersebut.
Dalam acara tersebut tampak hadir para sesepuh yang selama ini dikenal sebagai pemerhati dan pelestari Budaya. Seperti R. Bambang Sidaya, Joko Winarno Hadinegoro, KRH Agung Alap-alap Hadiwijaya, dan tak ketinggalan Bu Jasmin Slamet Rahayu yang selama ini dikenal sebagai penjaga Petilasan Kraton Pajang. Selain itu juga tampak warga umum serta tokoh-tokoh spiritual yang juga hadir mengikuti acara tersebut.
Setelah pembacaan doa serta beberapa tembang Kidung Jawa dilantunkan, prosesi ganti song-song dilakukan. Ada beberapa ritual penting yang tak boleh dilupakan dalam prosesi ini.
“Seperti membungkus song-song lama dengan kain putih. Juga tak lupa memberi sesajian khusus di depan berdirinya song-song. Atau tepatnya di lokasi Selo Umpak Kyai Keblak,” ujar KRH Agung Alap-alap Hadiwijaya yang juga bertindak langsung dalam penggantian hanti song-song keramat tersebut.
Sementara untuk song-song lama tersebut, sesuai tradisi akan dilarung atau dilabuh ke pantai selatan setelah bulan Suro tiba. Atau biasanya juga sehari menjelang bulan Suro tiba.
Dengan melarung atau labuhan Song-song Agung Kasultanan Pajang itu, menjadi prosesi akhir dari pergantian Song-song secara lengkap. Dalam prosesi Labuhan nanti, biasanya masyarakat juga menanti untuk bisa merebut Song-song lama, atau setidaknya sisa-sisa potongan payung untuk ritual ngalap berkah.
Kegiatan mengganti Song-song Agung tersebut, diharapkan bisa membangkitkan kembali spirit atau semangat leluhur dalam membangun peradaban. Tentunya peradaban yang lebih baik dan lebih beradab sesuai dengan kultur Jawa. (Med)











