MAJALAHKISAHNYATA.COM, Klaten– Aneh tapi nyata, lazimnya sebuah desa, ternyata di desa Kradenan, Trucuk, Klaten, Jateng, selama ini belum mempunyai sebuah pasar. Bahkan mungkin hanya di desa Kradenan, dari semua wilayah di Klaten, yang tidak atau belum mempunyai pasar sendiri.
Padahal fungsi pasar, tentu tak sekedar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli. Namun lebih dari itu, bisa meningkatkan perekonomian wilayah setempat. Di wilayah desa Kradenan, satu-satunya pasar yang ada, justru berada di desa tetangga.
Lalu, bagaimana perjuangan pemerintah desa (Pemdes) Kradenan mewujudkan hal itu?

Kades desa Kradenan, yaitu Ridhwan Effendy (47), mengatakan, bahwa dalam waktu dekat pihak pemdes Kradenan bakal mewujudkan berdirinya sebuah pasar. Menurut pria yang akrab disapa Wawan ini, ia juga kurang begitu paham, mengapa selama berpuluh-puluh tahun di desanya malah tidak mempunyai pasar sendiri.
“Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Atau bagi pedagang yang hendak kulakan bahan-bahan pokok, warga desa kami harus hijrah ke pasar-pasar desa tetangga,” tutur Wawan saat ditemui di kantornya pada Senin siang kemarin (22/11/2021).
Memang jarak pasar di desa tetangga terhitung cukup dekat. Namun hal itu tentu menjadi nilai minus bagi desa Kradenan sendiri. Karena jika Desa Kradenan mempunyai pasar sendiri, tentu bisa menjadikan efek domino yang sangat positif dari sisi ekonomi.

Misalnya warga desa Kradenan tidak harus pergi ke desa tetangga hanya untuk belanja. Selain itu, warga desa yang berprofesi pedagang juga bisa mempunyai tempat sendiri yang lebih leluasa. Efek lainnya, tentu saja keberadaan sebuah pasar bisa meningkatkan pendapatan ekonomi bagi warga desa Kradenan sendiri.
“Jika perekonomian masyarakat semakin meningkat, sudah tentu pendapatan asli daerah (PAD) desa kami, juga ikut meningkat dengan sendirinya,” papar Wawan dengan bersemangat.
Dikatakan pula, dengan berdirinya sebuah pasar baru, nantinya akan bisa menyeret potensi ekonomi lain yang terkait dengan pasar. Bisa potensi usaha dan jasa lain, yang berada dalam lingkungan komplek pasar. Bahkan bisa juga potensi ekonomi lain, seperti destinasi wisata, rekreasi, atau kawasan pusat olahraga.

Apalagi, wilayah desa Kradenan juga berada di jalur strategis. Yaitu tepat di tengah-tengah jantung kota Kecamatan Trucuk. Sehingga sangat aneh jika selama ini tidak mempunyai Pasar Desa sendiri. Karena jalur yang dilewati oleh jalan raya besar.
Atau tepatnya dilewati jalan raya Trucuk, yang menghubungkan antara desa-desa dari seluruh wilayah kecamatan, tentu keberadaan pasar menjadi aset atau potensi besar terkait ekonomi. Bahkan ke depannya, akan menjadi jalur penting antar provinsi.
Menurut Wawan, saat ini pihaknya sudah memulai membuat konsep berdirinya sebuah pasar baru. Bahkan jauh-jauh hari, sebelum ia resmi menjabat sebagai Kades Kradenan, ia sudah mempunyai cita-cita ingin mewujudkan berdirinya pasar sendiri.
“Kami sudah menyiapkan lahan khusus, dengan luas sekitar 5000 m2. Lahan tersebut selama ini, kebetulan mangkrak. Atau kurang optimal dalam pengelolaannya,” lanjutnya lagi.

Jika nanti terealisasi menjadi bangunan pasar, diharapkan bisa terintegrasi dengan kawasan rest area. Karena jalan utama desa Kradenan, merupakan jalur ramai selama 24 jam nonstop. Bahkan jika memungkinkan, dalam pengembangan selanjutnya akan dibuat semacam wisata hiburan. Misal berwujud pusat kuliner, cafe sawah, atau lainnya.
Saat ini, pihak Pemdes Kradenan sudah menggandeng beberapa pihak. Yaitu tim-tim kecil yang memetakan lahan pasar. Sekaligus membuat konsep tentang pembangunan pasar. Baik terkait sumber dana hingga site plan atau peta gambaran awal wujud pasar nantinya.
Sementara ini, sudah ada dari pihak Barnas (Barisan Nasional) yang dikomandani oleh wanita cantik, Ibu Erry Prima. Lewat tim kecil Barnasnya, juga sudah melakukan pendampingan awal terkait pembangunan di desa Kradenan. Barnas sendiri, dikenal memiliki banyak cabang dengan kelahiran awalnya di kota Solo, Jateng.
“Dari Kementrian Desa, PDT, dan Transmigrasi, menurut rencana juga akan mengunjungi desa kami di bulan-bulan mendatang. Dan berjanji akan membantu semua konsep pembangunan desa, terutama terkait rencana pembangunan pasar baru nantinya,” ujar Wawan lagi.

Dari tim-tim yang sudah bergerak, wujud pasar nantinya akan dibuat megah dari pasar-pasar desa pada umumnya. Meskipun konsepnya tetap pasar tradisional, namun wujud fisik pasarnya akan menyesuaikan perkembangan arsitektur pasar modern. Sehingga akan dilengkapi dengan areal parkir ala basement (bawah tanah). Juga fasilitas lain seperti lazimnya gedung pasar modern.
Selain pembangunan pasar, Wawan juga mengatakan, akan membuat destinasi wisata baru di daerahnya. Yaitu pengembangan embung yang sudah ada. Dulu air embung di dusun Jotang tersebut dikenal tak pernah kering.
Namun sayang, saat ini belik, atau sumber aliran airnya telah tertutup atau mati. Sehingga pihak Pemdes Kradenan, berencana akan membuat semacam sumber aliran air baru yang menggunakan sistem teknologi terkini.
“Intinya, keberadaan embung tersebut akan kami hidupkan kembali. Semoga bisa menjadi destinasi wisata yang menarik. Dan kami juga menerima dengan tangan terbuka, jika ada investor yang mau berbagi, untuk masuk dan ikut bersama-sama mengembangkan desa Kradenan. Terutama terkait potensi wisata atau potensi lain yang ada,” ujar Wawan didampingi beberapa perangkat desa yang lain.
Jika potensi wisata embung sudah ramai, tentu akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitarnya. Apalagi, jika warga desa, bisa mengemas dengan beragam event wisata di lokasi embung tersebut. Sudah tentu, juga bisa menyumbang PAD desa Kradenan sendiri.
Bahkan, tak hanya itu. Saat ini desa Kradenan juga sudah mempunyai gedung serba guna. Untuk lebih menggenjot PAD, pihak pemdes bakal menuntaskan pembangunan dengan segera. Gedung tersebut nantinya akan dikonsep bisa juga dipakai untuk kegiatan olahraga. Seperti badminton, fulsal, dll.
“Semoga target pembangunan pasar, dan ikon-ikon pendukungnya nanti, bisa segera terealisasi. Mohon doa restunya sekalian, amin,” pungkas Wawan mengakhiri obrolan. (Med/ADV)
Sumber: www.majalahkisahnyata.com















