KLATEN : Panggung wayang kulit menyedot perhatian warga pada hari Kamis Pon kemarin (07/03/2024). Tepatnya warga dari Desa Boto, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jateng. Lakon yang berjudul Begawan Diastho dipentaskan sejak siang hingga malam hari. Seperti apa kemeriahan acara tersebut?
Dalam rangka menyemarakkan acara Bersih Desa atau Sadranan, warga Dukuh Jetis bersama Pemerintah Desa Boto, Wonosari, menggelar acara pentas wayang kulit yang dilaksanakan pada siang dan malam hari.

Kades Boto Sri Rejeki Saat Memberikan Sambutan
Acara tersebut berlangsung meriah dan menghibur penonton yang memenuhi halaman rumah warga setempat. Acara tahunan ini dilaksanakan, sekaligus dalam rangkaian menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1445 H di tahun 2024.
Kepala Desa Boto, Sri Rejeki dalam sambutannya mengatakan, bahwa acara ini diselenggarakan dalam rangka bersih desa dan sadranan. Atau sebelum datangnya bulan puasa Ramadhan.

Juga Dihangatkan Oleh Para Pelaku UMKM Desa Boto dan Sekitarnya
Ia berpesan bahwa kegiatan tersebut, juga untuk melestarikan budaya Jawa terutama kesenian wayang kulit. Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama dan partisipasi warga desa. Dan tentu saja juga dari para sumbangsih atau donatur.
“Acara ini dapat dilaksanakan setelah moment Pemilu 2024 selesai. Sehingga diharapkan bisa memberikan hiburan agar warga bisa fresh kembali. Dan yang paling penting tidak usah saling membenci, meskipun dalam pemilu lalu beda pilihan. Warga harus guyup rukun kembali bersama, untuk membangun desa dan jangan sampai terpecah belah. Kita dukung nanti siapapun pemimpin yang akan terpilih,” ujar Kades Sri Rejeki.

Pemimpin Sejati Terus Melestarikan Budaya Negerinya Sendiri
Adapun sebagai Dalang yang menjalankan tugas dalam acara sadranan tersebut, baik siang dan malam adalah, Ki Catur Nugroho S.Sn M.Sn. Ki Dalang membawakan lakon Begawan Diastho, dan dimeriahkan oleh lawak Gareng dari Susukan, Semarang.
Tak lupa turut meramaikan acara malam itu, yaitu para pelaku UMKM Desa. Seperti para pedagang mainan anak-anak, juga ada stand UMKM dengan makanan dan minuman khas desa. Semuanya dengan gembira mewarnai arena tontonan wayang seperti pada umumnya. (Danang)
SUMBER : WWW.MAJALAHKISAHNYATA.COM















