(MAJALAHKISAHNYATA.Com), KLATEN – Sebuah upacara sakral digelar pada hari Senin Kliwon malam (29/12/2025) kemarin. Ritual tersebut bertujuan untuk menghormati serta mendoakan arwah para leluhur.
Dengan cara itu, diharapkan masyarakat bisa terus melestarikan adat dan tradisi. Dimana tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari nilai-nilai kearifan lokal yang sangat penting. Lalu seperti apa wujudnya?

Puluhan orang mengikuti sebuah prosesi ritual sakral. Tepatnya di sebuah rumah warga, atau di Kebon Mburi Resto milik KRT H. Oky Cahyo Hadinagoro SE, di Desa Sabrang, Delanggu, Klaten, Jateng. Acara tersebut adalah kegiatan rutinan tiga bulan, atau acara Rasulan Umbul Donga yang digelar secara berkala setiap tiga bulan sekali.
“Kami menggelar upacara rasulan umbul donga setiap tiga bulan sekali, yang diinisiasi oleh Perjuangan Walisongo Indonesia-Laskar Sabililah (PWI–LS) Delanggu, bekerja-sama dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) Kraton Surakarta, serta warga masyarakat Delanggu,” ujar Oky Cahyo yang juga sebagai pengurus PWI-LS Delanggu di sela-sela acara rasulan umbul donga tersebut.
Menurutnya, makna dari umbul donga itu adalah mengirim doa untuk para leluhur. Sehingga sekaligus sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur. Dimana mereka dianggap sebagai cikal bakal peradaban, atau sistem sosial dan masyarakat hingga berkembang seperti sekarang.

Kegiatan itu lebih fokus kepada pelestarian tradisi dan budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Surakarta. Dimana di wilayah Delanggu sendiri, terdapat banyak sekali situs atau punden yang berwujud makam-makam para tokoh atau leluhur yang berkaitan dengan trah Mataram.
“Kegiatan ini diharapkan bisa mengembalikan tradisi temurun, sebagai nilai kearifan lokal dengan nguri-uri serta melestarikan keberadaaan makam punden,” sambungnya lagi.
Hadir dalam acara tersebut semua pengurus PWI-LS Delanggu, wakil dari Pemerintahan Kecamatan Delanggu, serta beberapa wakil dari LDA Kraton Surakarta. Gusti Moeng atau GKR Wandansari Koes Moertiyah sebagai pangarsa dari LDA belum bisa ikut hadir dikarenakan sebuah acara di wilayah Boyolali.

Namun tampak tokoh-tokoh yang sudah mewakili dari pihak Lembaga Dewan Adat Surakarta. Seperti Gus Sofyan Marjuki yang juga sebagai ulama Kraton Surakarta yang kebetulan juga menjadi Sekretaris PWI Delanggu. Juga tampak hadir Kanjeng Rio Haryanto, Bimo Priyanto, Boby Suharno, serta beberapa wakil dari abdi dalem pakoso Kraton Surakarta.
Acara dimulai sekitar pukul 20.00 malam dengan kirab membawa 4 gunungan nasi tumpeng, serta beberapa simbol sesaji lain seperti pisang raja, polo kependem, nasi golong, dan bubur atau jenang Jawa.
Semua simbol itu mempunyai makna sendiri-sendiri yang sarat akan kebaikan serta manfaat dalam kehidupan. Seperti gunungan berjumlah empat yang melambangkan hawa nafsu manusia atau empat anasir kehidupan yaitu api, air, tanah, dan angin.

Atau pisang raja yang melambangkan simbol piwulang luhur akan kelebihan atau kewibawaaan. Sementara nasi golong melambangkan manunggaling cipta karsa, atau bersatunya rasa dan pikiran manusia untuk keselamatan manusia sendiri.
Atau makanan bubur jenang juga melambangkan budidaya atau usaha manusia. Dimana perjuangan manusia adalah untuk membuat nama baik. Sehingga rejeki akan otomatis mengikuti jika manusia sudah melakukan berbagai kebaikan hidup.
Setelah kirab dibacakan doa-doa, baik secara kitab suci maupun doa dalam tradisi bahasa Jawa yang dipimpin oleh Gus Sofyan. Warga masyarakat, atau wakil-wakil Pakoso yang datang mengikuti prosesi doa dengan duduk lesehan di halaman yang disediakan.
Dalam acara tersebut, wakil-wakil dari pihak LDA Kraton Surakarta sangat mengapresisi kegiatan Rasulan Umbul Daonga tersebut. Karena dengan acara itu, bisa terus menghidupkan tradisi yang sangat penting dalam roh kehidupan masyarakat Jawa.

Dimana di wilayah-wilayah lain, mungkin saja acara semacam itu justru sudah mulai ditinggalkan karena alasan politik atau pemahaman spiritual yang sempit karena doktrin agama yang kurang luas penjabarannya.
Sebagai penutup acara, diadakan ritual kembul bujana, atau menyantap bersama-sama makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Yaitu nasi liwet atau nasi gurih khas menu warisan leluhur Mataram. Juga tak ketinggalan, sosok wanita cantik asal Klaten yaitu Mbak Ririt Rengganis ikut menghibur semua tamu undangan dengan tembang-tembang Jawa yang sakral. (Med/Danang)














