(MAJALAHKISAHNYATA.Com), Solo – Saat manusia berada dalam kondisi kritis, koma, atau anfal, seringkali mengalami hal-hal gaib yang dirasakan sangat nyata. Misalnya bertemu dengan sosok-sosok makhluk yang aneh. Atau berada dalam tempat yang belum pernah dilihatnya. Seperti kisah seorang tokoh masyarakat asal Solo ini. Seperti apa pengalamannya?
Suatu hari, menjelang bulan Ramadhan tahun 2026 ini, Dr. BRM Kusumo Putro S.H, M.H, seperti biasa melepas penat di salah satu ruangan kantornya. Kantor yang berlokasi di kawasan Taman Sriwedari, Solo itu, memang menjadi ruang kerjanya sekaligus sebagai tempat untuk bersantai setelah seharian bekerja di lapangan.
Dia sendiri selain aktif sebagai pengacara, juga aktif dalam beberapa organisasi, seperti Ketua LSM Lapaan RI Jateng, Juga sebagai Ketua Yayasan Forum Budaya Mataram, dan beberapa organisasi lainnya.
Mungkin karena keaktifannya itulah, seringkali ia lupa dengan kondisi kesehatannya. Hal tersebut kerap terjadi, karena ia ingin segala hal yang dikerjakan harus tuntas dengan hasil maksimal.
Nah suatu siang, saat ia sedang duduk bersantai, mendadak ia hilang kesadaran. Tanpa ia sadari, tiba-tiba saja tubuhnya sudah ambruk dengan posisi masih duduk dan kepala telungkup di atas meja.
“Bahkan saat orang-orang yang saat itu kebetulan juga berada di kantor, memanggil-manggil nama saya, saya sama sekali tidak mendengar. Dan kata mereka, saya hanya terlihat diam seribu basa,” tutur Kusumo saat mengawali cerita pengalamannya.

Tanpa banyak drama, semua karyawan, dan kolega dekatnya yang saat itu berada di lokasi, langsung membawanya ke rumah sakit PKU Muhamadiyah Solo.
Sampai rumah sakit ia langsung masuk ruangan IGD. Nah di ruangan inilah, ia merasa mendapat sebuah pengalaman yang sangat mengaduk-aduk rasa spiritualnya.
“Saat di ruang IGD, kabarnya kondisi saya sudah pingsan atau koma. Dan dari hasil observasi tim medis, saya sudah divonis untuk segera masuk ruang ICU,” lanjut Kusumo lagi.
Saat itu bahkan beberapa peralatan untuk kondisi sangat kritis sudah terpasang lengkap di seluruh badannya. Mulai selang oksigen, selang makanan, infus, serta selang kateter untuk saluran air seninya.
Detik-detik menuju ruang ICU itulah, tiba-tiba saja hal di luar kendalinya terjadi. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja ia merasa sudah berada di ruangan atau tempat yang sangat aneh.
“Tempat itu sama sekali tak ada pemandangan apapun. namun cahayanya sangat terang. Bahkan mungkin lebih terang dari cahaya yang selama ini ada di bumi, termasuk lebih terang dari cahaya matahari,” ujarnya mengingat-ingat detail pengalamannya.
Yang sangat aneh, walau cahaya tersebut sangat terang, namun sama sekali tidak menyilaukan mata. Tidak terasa panas, malah sangat menyejukkan rasanya. Dalam kondisi demikian, ia hanya bisa pasrah dengan posisi tubuh menekuk tergeletak di bawah (njingkrung).
Secara reflek matanya hanya bisa memandang ke atas. Samar-samar di balik cahaya yang terang itu, pandangan matanya tertumbuk pada sosok makluk yang sangat besar.
Menurut pengakuannya, makluk itu hanya terlihat pada bagian telapak kaki, mata kaki, serta betis ke atas. Sementara bagian badan atas dan kepalanya tidak jelas. Sehingga ia sulit menggambarkan apakah sosok itu seperti manusia, atau justru sosok malaikat seperti yang selama itu diilustrasikan oleh berbagai imajinasi seni di dunia.

“Namun yang jelas, sosok tersebut sangat besar sekali seperti makhluk raksasa. Lha wong telapak kakinya saja, besarnya berkali-kali lipat dari ukuran tubuh saya,” ceritanya lagi.
Belum habis rasa penasarannya, saat ia masih bingung dan diam tertegun, mendadak sosok raksasa itu bergerak. Tanpa basa-basi, langsung menendang tubuh Kusumo hingga berkali-kali. Menurut pengakuannya, bahkan sampai 4 hingga 5 kali tendangan.
“Bangun…bangun…bangun,” begitulah suara yang terdengar dari sosok tinggi besar tersebut dikala menendang-nendang tubuhnya dengan keras.
Anehnya, walaupun tendangan tersebut dirasa sangat keras, sama sekali ia tak merasakan sakit. Ia bahkan masih tak berdaya untuk bereaksi saat awal-awal tendangan tersebut.
Barulah pada tendangan keempat atau kelima, Kusumo benar-benar kaget dan bereaksi. Ia benar-benar terpental jauh. Sehingga secara spontan ia pun bangkit lagi.
Nah saat bangkit itulah, ia semakin kaget, karena ia merasakan tubuhnya tidak seperti biasanya. Tenggorokannya seperti tercekat, karena memang masih dipasangi alat-alat medis. Bahkan ruangan terang yang tadinya ia rasakan, sudah berganti dengan ruangan kamar khas rumah sakit.
“Saya spontan bangun dan bangkit dari ranjang. Ternyata banyak sekali peralatan yang membuat gerakan tubuh saya benar-benar seperti terbelenggu,” ujarnya.
Saat itulah, sebenarnya orang-orang dekat serta para perawat yang menjaganya melihat ia sedang posisi kejang-kejang serta meloncat berdiri dari ranjang pasien.
Bahkan tanpa sadar, masih dalam kondisi polos, Kusumo hendak keluar dari kamar IGD tersebut. Ngerinya, masih dengan posisi tangan yang memaksa hendak mencopoti semua peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
Beruntung seorang perawat langsung menghampiri. Dan menuntunnya untuk kembali tenang di atas ranjang. Begitu pula semua peralatan medis, satu per satu langsung dicopoti dengan hati-hati oleh si perawat.
Saat dokter datang dan mengecek kondisinya, juga sedikit heran dengan kondisi Kusumo yang tiba-tiba saja membaik dengan cepat. Walau begitu, untuk pemantauan kesehatannya, ia masih harus dirawat selama lima hari di rumah sakit tersebut.
“Dan alhamdulilah, setelah dirawat lima hari badan saya terasa sangat segar kembali. Rasanya mungkin seperti Hp baru dicas dan direstat ulang,” katanya dengan ekspresi penuh rasa syukur.
Sejak peristiwa itulah, ia semakin yakin dan percaya, bahwa ada dunia lain, atau dunia di persimpangan. Dimana di tempat itulah, nasib atau takdir manusia akan ditentukan. Yaitu akan dikembalikan ke dunia lagi atau diberi kesempatan untuk hidup menikmati isi dunia lagi.
Atau pilihan kedua akan langsung diambil untuk dibawa kembali ke sang Pencipta atau di alam keabadian sana. Saat itu, Kusumo sebenarnya dihadapkan kepada beberapa opsi yang sama-sama berat jika diukur dengan apa yang sudah dirasakan manusia selama menikmati isi dunia.
“Yaitu saya meninggal dan tinggal di alam keabadian sana. Atau saya tetap koma dalam kondisi anfal. Atau tetap hidup dan kembali ke dunia namun dengan kondisi stroke. Mengingat saat itu, diagnosa kondisi tubuh termasuk berat,” urainya.
Namun Tuhan berkehendak lain. Bagai mujizat, ia ternyata kembali pulih dan masih hidup dengan kondisi segar bugar tak kurang suatu apapun. Dan masih bisa beraktivitas dengan normal sampai detik ini.
Ia benar-benar sangat bersyukur, masih diberi kesempatan untuk hidup di bumi yang sangat indah ini. Masih diberi kesempatan untuk menikmati hangatnya sinar mentari. Melihat matahari terbit dan tenggelam.
Dari pengalaman itu pula, ia merasa ada banyak hal yang harus diubah dalam hidupnya. Semua itu agar ia benar-benar bisa hidup dengan lebih berguna, dan lebih bermanfaat bagi dunia dengan segala isinya ini. Termasuk bermanfaat bagi keluarga, kerabat, teman, dan semua sesamanya. (Dia)













