(MAJALAHKISAHNYATA.Com), Klaten – Puluhan manusia dengan pakaian ikram serba putih mengelilingi replika Batu Kabah pada hari Sabtu siang kemarin (04/04/2026). Tak lupa beragam ritual ibadah lainnya juga mereka kerjakan dengan sangat kyusuk dan semangat. Lantas seperti apa kesiapan mereka?
Sekitar 47 calon jemaah haji asal Kecamatan Juwiring, Klaten Jateng dengan penuh semangat mengikuti kegiatan Manasik Haji. Atau kegiatan simulasi dan tata cara pelaksanaan ibadah haji, sesuai rukun dan wajib haji yang sesungguhnya.
Acara tersebut digelar di beberapa Balai Desa serta Pondok yang ada di Kecamatan Juwiring. Namun sebagai puncaknya, manasik haji dilakukan di halaman Balai Desa Taji, Juwiring.

Di sana dilakukan beragam ritual ibadah haji seperti wukuf, lempar jumrah, tawaf ifadah dan sa’i atau memutari kabah sebanyak tujuh putaran, serta beberapa ritual ibadah lain sebagai syarat ibadah haji. Khususnya untuk kebiasaan para jamaah haji dari Indonesia.
“Untuk kali ini, kami sengaja mengadakan manasik haji, sebagai persiapan bekal mental dan fisik para calon jemaah haji, jika nanti sudah benar-benar berangkat, tidak akan bingung saat di tanah suci,” ujar Drs. H. Jumianto (59), selaku ketua Panitia Manasik Haji 2026 Kecamatan Juwiring dari IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kecamatan Juwiring.
Pria yang juga sebagai Ketua P3H (Panitia Pemberangkatan dan Pemulangan) Jemaah Haji 2026 ini menambahkan, kegiatan tersebut sudah menjadi kegiatan rutin dari bagian tugas utama yang sering dilakukan oleh IPHI, khususnya di wilayah Kecamatan Juwiring, Klaten.
Untuk calon jemaah haji asal Kecamatan Juwiring sendiri, di tahun 2026 ini ada 59 warga. Namun karena alasan teknis, dan sebab lain, hanya sekitar 57 calon jemaah yang berhasil lolos.
“Nah sambil menunggu jadwal keberangkatan dari Depag (Departemen Agama), maka kami mengadakan simulasi Manasik Haji, baik teori maupun praktek, agar tali silaturahmi antar calon jemaah haji bisa semakin erat,” lanjutnya.

Calon jemaah haji tersebut berasal dari seluruh desa Se-Kecamatan Juwiring secara merata. Usianya juga beragam, mulai usia remaja hingga lanjut usia. Bahkan ada seorang calon jemaah haji karena kondisi fisik, maka ia naik kursi roda selama melakukan manasik haji tersebut
Yang menarik, saat para calon jemaah mengitari kabah, tak henti-hentinya panitia lewat pengeras suara mengingatkan agar selalu melambaikan tangan. Terutama setiap mengawali putaran dengan tak lupa mengucapkan doa-doa serta takbir yang menggema.
Selesai dengan ritual tawaf dan sa’i, lalu dilanjutkan dengan pergi ke arah mata air zam-zam atau antara bukit Safa dan Marwah. Mereka mereguk air zam-zam yang sudah disediakan panitia, dengan penuh kelegaan di bawah cuaca yang sangat panas. Sebagian juga mengusapkan air zam-zam ke bagian wajah, kepala, dan dada.
Lalu mereka juga melakukan sholat sunnah menghadap ke arah Kabah. Atau tepatnya di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu, rombongan dibagi dua menyusuri padang atau bukit Safa, yang letaknya di jalan di depan Balai Desa Taji.

Di sini mereka juga sempat melakukan foto bersama untuk membuat kenangan dan dokumentasi. Mereka diarahkan untuk mengambil snack berupa jajanan pasar khas Desa Taji. Aneka makanan tersebut, disediakan oleh ibu-ibu di sepanjang jalan yang dilewati rombongan.
Sebagai puncak acara, IPHI Juwiring menjamu semua peserta manasik haji untuk makan siang. Atau tepatnya di gedung IPHI Kecamatan Juwiring. Salah satu peserta manasik haji, yaitu Joko Sugito, mengaku senang dengan kegiatan tersebut.
“Saya terpanggil untuk melaksanakan ibadah haji. Bahkan sejak 13 tahun silam saya sudah mendaftar untuk ikut ibadah Haji. Namun karena badai covid-19 lalu, jadwal jadi tertunda hingga tahun ini,” ujar pria yang juga akrab disapa Pak Jabung ini.
Ia juga mengharap agar semua calon jemaah haji nantinya bisa benar-benar terlaksana ibadahnya dengan kyusuk. Mereka bisa berangkat dan beribadah dengan aman, lancar, sehat, serta kembali ke masing-masing keluarganya tanpa kurang suatu apapun. Amin. (Danang)















