(MAJALAHKISAHNYATA.Com), Boyolali – Puluhan siswa SD dengan semangat mewarnai beberapa wayang unik di sebuah aula gedung sekolah pada hari Rabu (11/02/2026) yang lalu. Wayang tersebut cukup unik, karena dinamakan wayang keong. Namun bahan pembuatannya justru dari kertas kardus. Lalu mengapa disebut wayang keong? Lantas seperti apa keseruan kegiatan anak-anak SD tersebut?
Bertempat di Aula gedung sekolah SDN Susiloharjo, Jl. Pisang No 2, Siswodipuran, Boyolali, Jateng, kegiatan ini mengambil Tema Workshop dengan mengenalkan anak-anak sekolah kepada hewan-hewan penjaga ekosistim alam.
Kegiatan workshop diisi dengan mewarnai topeng wayang keong menggunakan cat air. Juga dongeng fabel dengan tema wayang keong beserta hewan-hewan lain. Terutama hewan-hewan yang selama ini menjadi simbol dari ekosistim lingkungan persawahan.

“Kegiatan ini terinspirasi dari realita bahwa sawah merupakan pondasi atau pilar kuat bagi ketahanan pangan di Nusantara. Namun banyak orang lupa tentang pentingnya ekosistem sawah itu sendiri. Termasuk binatang keong yang punya peran penting dalam ekositem sawah,” ujar Mbak Popy Endah selaku Manager dari Bens Manajemen.
Bens Manajemen sendiri adalah yang menaungi Omah Topeng Langdhawur dan Mas Bams DKW9. Merekalah yang menjadi penyelenggara kegiatan tersebut dengan menggandeng anak-anak sekolah di SDN Susiloharjo.
Ditambahkannya, bahwa jika ekosistem sawah terjaga, maka sawah dan hasil panennya tentu juga akan sehat. Jika sawah sehat bisa menghasilkan pangan yang kuat agar negara makin kuat.

Binatang keong sengaja diambil sebagai simbol yang mewakili salah satu dari habitat yang mengisi ekosistem sawah. Dimana peran keong sendiri ternyata sangat penting dalam menjaga kesuburan serta kesinambungan tanaman padi di sawah.
“Terbukti bahwa keong menjadi komponen penting dalam proses penguraian sisa-sisa organik dan bahan yang membusuk di sawah,” imbuhnya di sela-sela kegiatan mewarnai topeng wayang keong tersebut.
Selain itu, kotoran keong juga bisa menjadi nutrisi yang berfungsi meningkatkan kesuburan tanah. Bahkan keong juga bisa menjadi pengendali gulma. Karena ia sangat suka memakan alga dan tanaman muda (gulma) yang tumbuh di air. Dimana selama ini tanaman tersebut dianggap sebagai pengganggu pertumbuhan padi.

Lalu mengapa sasarannya anak-anak sekolah?
Menurut mbak Popy, anak-anak sekolah dasar merupakan pilar penerus bangsa. Sehingga jika sedini mungkin bisa dikenalkan tentang pentingnya ekosistem lingkungan, maka karakternya bisa terbangun untuk terus konsisten peduli dengan lingkungannya masing-masing.
Mereka diharapkan untuk bisa terus mencintai lingkungan, terutama alam semesta seisinya. Termasuk binatang-bitanag dan segala ekosistem persawahan. Dengan menanamkan karakter seperti itu, tentu saja isi dunia terutama lingkungan alam akan menjadi lebih baik
Di sisi lain, kegiatan workshop dengan pengenalan binatang keong, diharap bisa melatih anak-anak agar lebih disiplin, kreatif, serta tidak takut untuk berimajinasi.
Dengan kegiatan berkumpul, mewarnai, mengapresiasi dongeng, mereka tidak akan jenuh dan bisa bergembira bersama. Saat rasa penasaran tentang ekosistem sawah bangkit, anak-anak bisa lebih kreatif untuk lebih mengenal lewat karya-karya yang nantinya mungkin akan dibuat.

“Intinya, dengan kegiatan ini, kita berharap bisa menghidupkan budaya. Atau minimal mengenalkan budaya kepada anak-anak, terutama budaya tradisional dari karakter atau sosok-sosok wayang yang sangat terbuka untuk terus berkembang sesuai dengan jaman,” paparnya.
Bukan tidak mungkin, dari kegiatan sederhana itu, nantinya akan muncul sosok-sosok seniman baru terutama dari wilayah Jawa Tengah dengan karakter atau genre seni yang lebih segar serta diterima oleh semua lapisan masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi titik awal dengan tema wayang keong yang makin membumi. Tak menutup kemungkinan, ke depannya kegiatan serupa bisa meluas ke wilayah-wilayah lain dengan kegiatan yang semakin bervariasi.
Sementara Kepala Sekolah SDN Susiloharjo, yaitu Ibu Sugiyanti , S.Pd. sangat mengapresiasi kegiatan workshop tersebut. Ia berharap anak-anak yang mengikuti kegiatan itu, bisa terinspirasi untuk terus melestarikan budaya Jawa.
“Sehingga budaya Jawa tidak putus dan tetap lestari dari generasi ke generasi berikutnya,” terang Ibu Sugiyanti.

Bahkan dengan pengalaman berkegiatan itu, anak-anak nantinya juga mempunyai bekal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah. Misalnya lomba tentang mendongeng, atau bercerita tentang dunia binatang. Serta kegiatan lain yang berhubungan dengan binatang.
Acara itu sendiri diikuti oleh sekitar 62 siswa dari kelas 1-5. Kegiatan tersebut juga tidak bersifat memaksa. Sehingga siswa dengan bebas memilihnya untuk ikut apa tidak.
Di sela-sela acara juga dibacakan puisi dan motivasi bertema wayang keong oleh salah satu siswa yang bernama Abel. Sedangkan dongeng cerita binatang, dibacakan oleh seniman Janthit Sanakala.
Janthit Sanakala selama ini dikenal sebagai seniman pembuat wayang dari bahan daur ulang sampah. Salah satunya adalah wayang keong berbahan kertas kardus tersebut. (Dia)















