Sinuwun Paku Buwono XIII sendiri yang mengawali menyalakan api di dapur. Lalu semua abdi dalem di dapur segera mengerjakan tugasnya masing-masing, melanjutkan ritual memasak tersebut. Ada yang bertugas mengambil kayu bakar, mencuci beras, meniup api, menuangkan air ke dandhang.
Dan yang tidak kalah penting, ada juga yang khusus membaca zdikir dan sholawat di luar dapur. Sedangkan di bagian dalam ada yang khusus membakar dupa serta berdoa sesuai adat dan tradisi leluhur Jawa.
Setelah semua beras sudah matang, besoknya sekitar pukul 10.00, nasi tersebut dibagikan. Para abdi dalem dan kerabat kraton, berkumpul di lokasi Kajogan Ndalem Ageng. Mereka ikut acara Pisowanan atas permintaan PB XIII. Selain itu ada tamu undangan dari luar/umum. Selama acara ini, perwakilan dari abdi dalem, kerabat kraton, serta masyarakat umum, menerima nasi secara simbolis.
“Sedangkan sisa nasi lainnya, dibagikan oleh tim abdi dalem kepada semua abdi dalem yang hadir, atau kepada tamu undangan lainnya,” lanjut Haryanto lagi.
Dan memang benar semua warga atau siapapun yang datang, akan kebagian nasi tersebut. Nasi itu sudah dibungkus dengan kotak plastik kecil-kecil. Nasi sudah dicampur dengan irisan dendeng, atau daging sapi bakar.
Yang menerima nasi, seringkali merasa sayang untuk langsung memakan di tempat. Mereka memilih untuk dibawa pulang. Tak heran, nasi itu dianggap berkah istimewa. Berkah yang hanya datang sekali dalam delapan tahun (sewindu), dan diterima langsung dari keluarga kerajaan atau Kraton.
Selain dendeng, ada sajian lauk lain yang juga unik, yaitu sate pentul. Sate ini juga terbuat dari daging sapi, namun bentuknya bulat seukuran setengah kepalan tangan. Sate pentul ini juga disajikan untuk tamu dan undangan yang datang.
Secara umum rasa nasi adhang ini sangat pulen, meskipun sedikit beraroma sangit. Tapi aroma sangit inilah yang justru sejatinya membuat rasanya menjadi enak, dan siapapun yang mencoba pasti ketagihan.
Menurut beberapa sumber, Dandang Kyai Duda memiliki sejarah yang mengandung mistis. Sebelumnya pada saat kerusuhan Geger Pecinan di kraton Kartasuro, milisi Tionghoa yang tergabung dalam pasukan Raden Mas Gerendi berhasil menerobos tembok istana. Juga berhasil menerobos bagian dapur kerajaan.
“Entah disengaja atau tidak, ada seorang pendekar Cina yang menendang Dandang Kyai Duda. Sehingga bagian bawah dandang sedikit penyok,” cerita salah satu abdi dalem.
Dari kejadian itu, ada semacam luka sejarah. Setiap dandang dipakai memasak atau menanak nasi, tidak boleh ada orang Tionghoa atau Cina yang melihat prosesinya, atau berada di dekat dapur kraton. Jika nekad dilanggar, yang sering terjadi, api di bawah dandhang tidak akan menyala. Dan beras atau nasi yang ditanak tentu tak bisa matang.
Fakta itu sudah beberapa kali terbukti. Dahulu ketika ritual menanak nasi Dal pada masanya PB XII. Beras yang ditanak tidak matang-matang hingga menjelang pagi. Selain itu, nyala api juga mati-mati sendiri tanpa sebab yang jelas.
Setelah diselidiki, ada beberapa tamu undangan yang menyaksikan prosesi adhang nasi tersebut, ternyata masih memiliki darah keturunan Tionghoa. Setelah para tamu tersebut diminta keluar dengan sopan dari komplek dapur, nasinya langsung matang, karena nyala api tidak mati-mati lagi.
Terlepas dari kisah mistisnya, jelas bahwa tradisi adhang nasi itu, dapat menjadi simbol menyatunya raja dan rakyat. Atau sebagai simbol persatuan, karena raja sendiri yang memasak.
Ketika nasinya sudah matang, raja sendiri yang juga membagikan nasinya kepada masyarakat umum. Selain membagikan nasi, raja juga memberikan gelar bangsawan kepada beberapa tokoh masyarakat, terutama yang dianggap layak mendapat gelar bangsawan. (Med)
sumber: http://majalahkisahnyata.com/











Komentar