(MAJALAHKISAHNYATA.Com) SOLO – Selesai menanak nasi dalam ritual Adhang Bethak di tahun Dal 1959 atau di tahun 2025 M ini, ternyata masih banyak rangkaian prosesi ritual setelahnya. Salah satunya adalah membongkar pawon atau dapur yang dipakai menanak nasi tersebut. Lantas apa saja makna filosofisnya?
Tradisi besar Adang Bethak di Tahun Dal Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memasuki tahapan berikutnya yang tak kalah penting. Setelah prosesi utama digelar, pada hari Minggu (14/09/2025) dilaksanakan kegiatan bongkar pawon di Kagungan Dalem Gondorasan. Prosesi ini selalu menyita perhatian, karena hanya berlangsung delapan tahun sekali dalam kalender Jawa.

Ritual Bongkar Pawon dipimpin Oleh Sentonodalem Kanjeng Pangeran Haryawan Wandiro Joyonagoro
Sejak pagi, suasana kawasan Gondorasan dipenuhi rasa khidmat. Para abdi dalem hadir dengan pakaian adat. Mereka bersiap melaksanakan tugas luhur yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian tradisi. Acara diawali dengan Wilujengan, yaitu doa bersama yang dipimpin oleh abdi dalem. Hal itu sebagai bentuk permohonan akan keselamatan serta kelancaran jalannya ritual.
Usai doa, prosesi bongkar pawon pun dimulai. Pawon yang sehari sebelumnya digunakan untuk memasak dalam tradisi Adang Bethak, dibongkar dengan penuh tata krama oleh para abdidalem.
Sentonodalem Kanjeng Pangeran Haryawan Wandiro Joyonagoro memimpin langsung jalannya pembongkaran. Dan memastikan setiap tahapan berjalan sesuai pakem adat Karaton Kasunanan.
Tidak sekadar membongkar tungku, kegiatan ini menyimpan makna filosofis yang dalam. Segala sisa bahan, kayu bakar, hingga peralatan masak dari pawon tersebut, dianggap memiliki nilai sakral karena telah digunakan dalam tradisi Adang Bethak.
Nantinya, seluruh hasil pembongkaran akan dilarung ke Pantai Parangkusumo dalam upacara adat khusus. Yaitu sebagai simbol penyucian sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi ini bukan hanya sebagai ritual kebudayaan, melainkan juga menjadi warisan spiritual. Karena mengajarkan tentang kebersamaan, kesabaran, serta kesadaran manusia akan hubungan dengan Sang Pencipta. Karena itulah, prosesi bongkar pawon disebut sebagai salah satu inti dari rangkaian Adang Bethak Tahun Dal.

Prosesi Ritual Bongkar Pawon Kraton Surakarta Sebelum DIlarung
Menurut KPA. Dani Nur Adiningrat, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kegiatan ini adalah bentuk nyata dawuh dalem.
“Prosesi bongkar pawon ini merupakan dawuh dalem SISKS. Pakoe Boewono XIII, agar adat dan budaya Karaton tidak hanya dijaga, tetapi juga diamalkan sebagai warisan luhur yang harus diteruskan kepada generasi penerus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, KPA. Dani menambahkan bahwa Karaton akan selalu menjaga agar tradisi semacam ini tetap berjalan.
“Adat istiadat Karaton Surakarta adalah napas kehidupan budaya Jawa. Dengan adanya dawuh dalem SISKS. Pakoe Boewono XIII, kita semua, khususnya abdidalem, diberi amanah untuk meneguhkan tekad melestarikan tradisi ini sampai kapan pun,” tegasnya.
Dengan demikian, prosesi bongkar pawon bukan sekadar rangkaian tambahan, tetapi menjadi bukti nyata bahwa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap teguh menjaga adat dan budaya sebagai jati diri bangsa, serta menjadikannya pusaka hidup bagi anak cucu di masa depan. (Dia)
SUMBER : RILIS SASANA WILAPA KARATON KASUNANAN SURAKARTA















