oleh

MISTERI DANDANG KYAI DUDA… Ritual Tanak Nasi Di Tahun Dal… Beras Tak Bisa Matang Jika Ada Pengunjung Cina

Yang unik, selain Dandhang Kyai Duda, semua peralatan yang lain harus baru. Atau yang lain hanya dipakai sekali, lalu dibuang (dilarung) ke laut selatan. Seperti kekep atau tutup dandang juga harus baru. Kekep ini khusus diambil dari wilayah pengrajin gabah di Bayat, Klaten, Jateng. Juga kadang-kadang dari wilayah Selo, Grobogan, Jateng. Maklum kekep tersebut bahannya dari gerabah atau tembikar tanah asli.

 “Seseorang atau pengrajin yang membuat kekep sendiri, juga dari Abdi Dalem Kraton yang membuat karyanya khusus untuk sekali pakai,” ujarnya di sela-sela acara pembagian nasi yang sudah matang.

MENYIAPKAN DANDANG PENGIRING

Bahkan bagian tungku, atau bagian bawah perapian yang digunakan untuk membakar juga dibuat baru. Selain itu api yang dipakai untuk menyulut pertama, juga diambil dari api abadi dari dalam komplek makam Kyai Ageng Selo di Grobogan.

Yang paling istimewa, jenis beras yang digunakan juga diambil dari wilayah penghasil beras terbaik. Yaitu dari lumbung beras Selayur dan Delanggu, Klaten, Jateng yang tersohor sebagai penghasil beras jenis Rajalele.

PARA ABDI DALEM YANG BERTUGAS BACA ZIKIR DAN SHOLAWAT

Beras yang digunakan biasanya sekitar 70 kg, atau kurang lebihnya hingga 3 kwintal tergantung dari undangan dan jumlah abdi dalem yang datang. Alat tambahan lainnya seperti tepas, kukusan, dll juga baru semua.

Sewaktu acara menanak nasi sudah selesai, abu kayu yang digunakan untuk bahan bakar juga ikut dilarung. Uniknya, alat dan abu yang akan dilarung, menunggu datangnya wahyu atau wangsit yang biasanya diterima oleh raja.  Ketika wangsit sudah diterima, baru dibawa ke laut selatan untuk dilarung.

DANDANG KYAI DUDA

Selama acara menanak nasi, para abdi dalem ulama tidak berhenti membaca dzikir dan shalawat. Bahkan dilakukan sampai pagi, atau sampai semua nasi matang. Berbagai bumbu dan minyak digunakan dalam ritual memasak tersebut. Namun yang unik, ada semacam minyak blonyoh (lumur) yang dicampur dengan sabun.

“Sabun itu dilumurkan ke seluruh badan dandang. Gunanya untuk mencegah agar dandang tidak gosong atau menghitam saat terkena api dan asap dari bawah, ” kata Haryanto (62), seorang abdi dalem di Kraton Surakarta.

Ritual membalur dandhang dilakukan sampai selesai atau matangnya nasi. Setiap beberapa menit, sesekali, ada beberapa abdi dalem wanita yang khusus mengerjakan tugas itu. Meskipun nyala api membara memanasi dandang, para wanita itu terlihat tidak merasakan panas di tangan mereka. Konon, para abdi dalem tersebut memang dipilih khusus menyesuaikan kemampuan fisik dan spiritualnya.

MENUANGKAN AIR UNTUK TANAK NASI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed