MAJALAHKISAHNYATA.COM -KARANGANYAR– Beragam alternatif makanan disajikan dalam bentuk-bentuk yang terdengar serem. Bisa disebut sebagai kuliner ekstrim. Sebut saja sate landak, oseng-oseng mercon, codot goreng, walang goreng, hingga rica-rica anjing. Peminatnya tetap ada hingga sekarang. Selain terdengar serem, namun beberapa dipercaya sebagai makanan terapi kesehatan. Baik untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu.
Salah satunya adalah daging ular cobra. Ular Cobra yang selama ini identik dengan binatang buas melata, ternyata bisa didayagunakan untuk makanan dan obat-obatan. Di Solo, tepatnya di kawasan Pusat Oleh-Oleh Jongke, atau di Jl. Dr. Radjiman, Solo, seorang pemilik menyulap kiosnya menjadi warung makan khusus daging cobra. Dialah Sapardi Cobra. Sapardi yang kesehariannya bergelut dengan ular cobra memang akrab dengan julukan Sapardi Cobra.
Karena usia yang sudah tua, kini kios daging cobra miliknya diteruskan oleh anak-anaknya. Pasangan suami istri, Mas Rindarmoyo dan mbak Utik kini yang mengelola kios Cobra itu.
“Maklum bapak (Sapardi) sudah tua, jadi kami yang kini meneruskannya.” ujar Rindarmoyo pada Majalahkisahnyata.com.
Menurut pasangan ramah ini, dulu kios mereka berada di kampung Kabangan, kira-kira 1 km arah timur dari pasar oleh-oleh Jongke. Meskipun sudah pindah tempat dan berganti pengelola, pelanggan-pelanggan mereka tetap setia memburunya. Maklum kebanyakan pembeli memang pelanggan-pelanggan lama yang sudah tahu dan merasakan khasiat dari daging cobra.
“Pembeli kami kebanyakan memang pelanggan yang datang secara rutin.” Katanya lagi. Pelanggan-pelanggan dari kalangan orang terkenal juga ada. Antara lain dari atlit pembalap nasional, Orlando , juga dari atlet pemain sepak bola, artis Nunung, dll. Selain itu beberapa tokoh masyarakat juga sering mampir ke kios cobranya.
Lalu apa saja menu yang disajikan serta khasiat apa yang diberikan dari menu-menu itu untuk kesehatan manusia?
Menurut Rindarmoyo, khusus daging cobra disajikan dalam 2 menu utama. Yaitu daging cobra goreng dan tongseng cobra. Dulu memang sempat ada menu sate cobra. Namun karena dinilai ribet dalam pengolahannya, maka kini hanya tinggal cobra goreng serta cobra tongseng. Kedua menu utama itu biasa disajikan dengan tambahan nasi putih. Kadang ada juga yang minta daging goreng dimasak dengan nasi goreng. Jadilah nasi goreng cobra.
“Kadang ada juga loh yang langsung minta dimakan tanpa tambahan nasi.” timpal mbak Utik.
Biasanya yang langsung dimakan tanpa nasi putih adalah cobra goreng. Menurutnya langsung dimakan tanpa nasi juga enak. Untuk membuktikan hal itu, mbak Utik menawarkan pada majalahkisahnyata.com untuk mencoba mencicipi daging cobra hangat.
“Ini silakan coba, daging cobra goreng.” tawarnya ramah.
Memang rasanya empuk, renyah, dan gurih. Juga sedikit rasa hangat yang menjalar ke tubuh. Maklum selain khasiat daging cobra sendiri, daging cobra goreng juga disajikan dengan taburan bubuk merica. Jadi rasa pedas alaminya langsung terasa ke tubuh. Sedangkan untuk tongseng cobra, cara masak beserta bumbu, berikut penyajiannya mirip dengan tongseng daging kambing pada umumnya. Hanya bahan utamanya berganti dengan daging ular cobra.















