(MAJALAHKISAHNYATA.Com), KARANGANYAR – Sebuah tumpeng sederhana menjadi simbol sakral dalam acara peresmian Panti Marhaen di Desa Kadipiro, Bejen, Karanganyar, Jateng, pada hari Sabtu (23/05/2026) kemarin. Selama prosesi peresmian, tak henti-hentinya terdengar teriakan semangat Marhaen. Yaitu Marhaen Bersatu, Marhaen Berjuang, dan Marhaen Menang. Lalu seperti apa semangat tersebut?
Akhirnya semua insan Marhaenis, khususnya di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jateng, bisa bernafas lega. Di hari itu, mereka sudah mempunyai sebuah tempat yang diberi nama Panti Marhaen Karanganyar.
Untuk itulah, pengurus dan beberapa anggota Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Karanganyar meresmikan tempat tersebut dalam sebuah upacara sederhana. Walau sederhana, namun semangatnya tetap menggema sampai ke luar angkasa.

Acara peresmian tersebut dihadiri oleh Sesepuh KBM baik di tingkat Kabupaten Karanganyar maupun Provinsi Jateng. Seperti Mbah Sucipto dan Mbah Sastro. Juga pengurus KBM Dewan Pimpinan Kabupaten Karanganyar serta wakil dari KBM Dewan Pimpinan Provinsi Jateng.
“Alhamdulilah, kita sekarang punya Panti Marhaen. Dimana menjadi rumah besar untuk kaum front Marhaenis di seluruh Karanganyar,” ujar Joko Sukmo Lelono, selaku Ketua dari Dewan Pimpinan Kabupaten Karanganyar Keluarga Besar Marhaenis Karanganyar di sela-sela acara tersebut.
Ditambahkannya, rumah Panti Marhaen itu bisa menjadi tempat berkumpul bagi para Marhaenis. Seperti dari anak-anak GMNI, PA-GMNI, PA-GNSI, Pemuda Marhaenis, MMI, Pemuda Demokrat, Kesatuan Buruh Marhaenis, serta kaum Marhaen yang lain.
Dengan adanya rumah besar tersebut, diharapkan teman-teman dari semua elemen atau front Marhaenis, bisa semakin mengkonsolidasikan diri, serta memperbaiki hubungan yang selama ini dianggap masih lemah atau belum kuat.

Selesai acara peresmian Panti Marhaen tersebut, dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Kabupaten Keluarga Besar Marhaenis Karanganyar.
“Harapan kami, setelah pelantikan pengurus ini, bisa segera melakukan aksi nyata untuk mengembangkan organisasi. Seperti penugasan untuk pengurus hingga tingkat Korwil Kecamatan bahkan hingga desa atau Dusun setingkat RT/RW,” lanjut Joko lagi.
Program perjuangan yang paling mendasar untuk saat ini bagi KBM adalah mewujudkan sebuah ekonomi perlawanan. Yaitu sebuah perjuangan agar bisa berdikari di bidang ekonomi.
Tak heran untuk saat ini KBM Karanganyar sudah mempunyai Toko Milik Rakyat (TOMIRA). Dimana toko tersebut bisa meraih omzet puluhan juta per hari di bidang kebutuhan pokok serta perkakas dapur.

“Target kami nantinya, dalam setiap empat bulan bisa mendirikan toko hingga merata di wilayah 177 desa. Bahkan seperti koperasi, dimana kami akan mengedukasi rakyat agar selain meminjam uang juga mulai belajar menabung,” paparnya.
Sementara itu, Sutrisno selaku Ketua Panitia acara yang juga wakil dari KBM Karanganyar, menambahkan acara peresmian Panti Marhaen dan pelantikan pengurus ini, nantinya bisa menjadi semacam seleksi alam bagi Marhaenis sejati.
Sutrisno berharap dengan terbentuknya pengurus KBM Karanganyar bisa semakin mensejahterakan diri sendiri (KBM) serta masyarakat pada umumnya. Khususnya kesejahteraan kaum Marhaen yang dewasa ini mungkin merasa masih tertindas dalam bidang ekonomi.
“Selain pengembangan ekonomi dan usaha, kami juga mengembangkan program lain seperti Marhaen Muslim Indonesia (MMI). Dimana nantinya kami akan mewujudkan pondok dengan nafas Pancasila,” ungkap Sutrisno.
Juga hadir dalam acara tersebut Pimpinan dari DPP KBM Jateng yaitu Aji Kuntoro. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa Panti Marhaen tersebut, bisa menjadi rumah bersama, sebagai tempat pengayoman, sumber dokumentasi segala kegiatan insan Marhaen. Dan yang paling penting menjadi pusat perjuangan Marhaen di tengah situasi saat ini.
“Dimana sekarang kami perlu saling mengasah kemampuan mengingat tantangan jaman yang makin berat, lapangan kerja yang semakin sempit, persaingan yang penuh dengan fitnah,” ujar Aji Kuntoro.

Dengan kembali kepada ideologi Marhaen, dimana Pancasila sebagai sumber utama ideologi, kaum Marhaenis bisa semaksimal mungkin menghindari benturan antara warga dan kelompok lain.
Ia juga berharap, keberadaan Panti Marhaen serta terbentuknya kepengurusan baru Keluarga Besar Marhaen Karanganyar, bisa semakin memancarkan cahaya ideologi bangsa, atau kembali membangkitkan nilai-nilai dalam Pancasila yang menginspirasi perjuangan kaum Marhaenis.
Peresmian diawali dengan doa dan sambutan dari beberapa sesepuh Marhaenis. Juga menyanyikan lagu Indonesia raya serta beberapa mars lagu perjuangan kaum Marhaenis.
Selanjutnya pengalungan bunga kepada pengurus Marhaen dari sesepuh. Lalu pengguntingan pita yang diakhiri dengan makan bersama dengan menu makanan tradisional khas desa. (Dia)












