MAJALAHKISAHNYATA.COM, Klaten– Sebuah batu aneh tiba-tiba saja jatuh dari langit. Dan jatuhnya tepat di samping sebuah makam keramat. Bentuknya unik menyerupai kepala kuda. Banyak yang percaya, batu tersebut mengandung kekuatan magis yang sangat kuat. Tak heran setiap malam, sering dikunjungi orang untuk melakukan lelaku atau tirakat. Banyak dalang kondang di Jateng, merupakan alumni dari berkegiatan spiritual di lokasi makam dekat batu unik tersebut.
Di wilayah kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah kampung yang bernama Dukuh Hanila, atau tepatnya di Desa Sajen. Desa itu terkenal akan industri kayu mebel. Namun selain mebel juga terkenal akan lokasi sebuah makam, yaitu makam Kyai Brojo Anila. Dialah tokoh terkenal dari Keraton Mataram di jaman Raja Amangkurat I. Kyai Brojo Anila berpangkat setingkat Tumenggung dan dikenal sangat sakti serta pandai berfilsafat.
Di dekat makamnya juga terdapat sebuah batu unik berbentuk Jaran Toleh (kuda dengan posisi kepala berpaling). Batu itu dinamakan Megantoro, karena diyakini jatuh dari langit. Saat ini di lokasi makam masih ramai dikunjungi orang untuk berziarah. Paling ramai adalah saat hari Jumat di minggu kedua dalam bulan Suro.
Saat itu biasanya diadakan ritual pementasan Wayang Kulit di pendapa makam. Ritual pentas wayang kulit digelar karena cerita mitos yang sangat dipercaya oleh warga sekitar berkaitan dengan keberadaan makam. Sudah puluhan dalang kondang asal luar desa Sajen yang bertandang atau memainkan pentas wayang kulit di sana. Mereka diundang oleh warga desa setiap tahunnya.
“Untuk ritual pentas wayang kulit itu, warga desa sini selalu patuh melestarikan dan menjaganya,” kata Sastro Diharjo (75), penjaga makam yang telah bertugas sejak tahun 1987 silam.
Kepatuhan warga desa ini memang cukup beralasan mengingat dulu pernah ada kejadian aneh yang menimpa warga desa. Kejadian yang lebih tepat dianggap musibah itu terjadi karena warga absent melakukan ritual pentas wayang kulit tahunan itu. Sejak masa juru kunci pertama makam sebenarnya sudah dilakukan ritual pentas wayang kulit tersebut.
Hal itu dulunya diawali sejak seorang pengunjung yang berprofesi dalang merasa kabul doanya di makam itu. Lalu mengadakan syukuran berupa acara pentas seni wayang kulit di makam. Dan tahun-tahun selanjutnya selalu berlanjut meskipun dengan dalang yang berlainan. Namun entah mengapa, sejak tahun 1990-an lalu ritual tersebut sempat dihentikan selama tiga tahun berturut-turut.
Nah sebuah peristiwa besar tiba-tiba saja terjadi melanda desa Sajen. Menginjak tahun ketiga setelah absent mengadakan ritual wayang kulit itu, tiba-tiba saja ada Pagebluk (bencana) yang berwujud kematian mendadak. Tak tanggung-tanggung, selama 20 hari berturut-turut sudah 45 orang warga desa meninggal dunia secara mendadak.
Menurut catatan warga, paling tidak berdasar keterangan dokter, empat orang meninggal dunia secara mendadak dikarenakan penyakit jantung, dan stroke. Namun lainnya tidak pernah diketahui dengan pasti apa penyakitnya. Mereka tahu-tahu meninggal di tempatnya masing-masing. Bahkan ada yang sedang di jalan desa tiba-tiba mengeluh dan dalam sekejab sudah terkapar jatuh meninggal dunia.
“Semula seluruh warga desa, bahkan desa tetangga juga bingung dengan musibah aneh itu,” kenang suami dari Suparmi ini.
Tentu saja musibah itu adalah rekor tragis yang pernah dialami sebuah desa. Di hari ke 21 setelah warga terakhir yang meninggal, pagi-pagi sekali warga berembug dan mengadakan rapat. Tiba-tiba saja sang Juru Kunci makam teringat akan ritual wayang kulit yang sudah selama tiga tahun tidak dilakukan warga desa itu lagi. Akhirnya ia berkata bahwa mulai besoknya ia akan mengadakan Acara ritual Wayang kulit seperti yang telah menjadi tradisi turun temurun sebelumnya itu.
“Anehnya begitu rencana itu baru saja saya omongkan di depan warga lain, tiba-tiba saja dua orang warga yang pagi itu kabarnya jatuh sakit dan sekarat tiba-tiba saja bangun dan segar bugar, malah menyusul ikut rapat,” ceritanya serius.
Dan setelah besoknya, warga desa mengundang seorang dalang dari luar desa untuk pentas wayang kulit, maka sejak saat itulah semua musibah penyakit misterius yang merenggut nyawa puluhan warga desa terhenti dengan sendirinya. Mulai saat itulah sang juru kunci makam dan seluruh warga desa percaya bahwa musibah pageblug itu terjadi karena mereka telah alpa dalam menjalankan tradisi turun temurun itu.
Dan kini setiap minggu kedua dalam bulan Suro pentas wayang kulit itu menjadi agenda utama dari warga desa. Dan tanpa menunggu dalang yang mengadakan syukuranpun, mereka sudah menanggap dalang sendiri untuk mementaskan Wayang Kulit di pendapa makam. Yang seringkali terjadi, kini malah banyak dalang yang berebut untuk pentas di makam itu. Konon dalang yang telah pentas di makam itu, biasanya akan semakin laris mendapat orderan pentas.
Ada misteri lain saat musibah atau pageblug itu dulu melanda desa. Saat itu ada seorang wanita tua warga desa yang setiap harinya bermimpi sama. Ia bermimpi melihat seorang wanita yang menggendong tenggok atau tenong (keranjang dari bambu). Yang mengerikan isi dari tenggok itu adalah sebuah kepala manusia yang bercucuran darah.















