MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo– Pukul 01.00 lewat tengah malam, embun mulai menetes. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Sumardi (49), bersiap menuju tempat tidur. Rasa lelah dan penat, terasa sekali di badannya. Maklum, beberapa jam sebelumnya, ia bekerja di TPU dekat rumahnya. Namun baru saja, selimut mulai menghangatkan tubuhnya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk orang. Tok…tok…tok…
Ternyata, teman satu profesinya memberi kabar. Dini hari itu juga, mereka harus bekerja lagi. Menggali sebuah liang lahat untuk jenazah covid yang segera tiba. Tanpa berpikir panjang, Sumardi dan temannya langsung bergegas. Menyiapkan peralatan linggis, cangkul, dan sekop. Lalu bergerak di kegelapan, menembus dinginnya malam. Itulah sekelumit aktivitas dari sosok Sumardi. Penggali kubur di kawasan makam Purwoloyo, Solo, Jateng.
Banyak profesi yang mendadak mendapat sebutan pejuang. Bahkan disebut pahlawan di masa Pandemi Covid-19 sekarang ini. Misalnya para nakes seperti dokter, perawat, dan semua orang yang bekerja atau terlibat di rumah sakit. Juga TNI, Polri, serta semua relawan covid-19. Namun ada profesi yang mungkin luput dari perhatian umum. Yaitu penggali kubur di tempat pemakaman umum (TPU). Lalu bagaimana nasib mereka?

Para penggali kubur tersebut, nyatanya menjadi garda terdepan saat pasien covid sudah dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit. Bayangkan saja, jika tak ada penggali kubur, tentu pihak rumah sakit atau keluarga korban akan kelabakan mengurus jenazah. Apalagi jenazah korban covid-19, tentu harus segera dimakamkan dengan standar prokes (protokol kesehatan). Karena jika tidak, sangat berpotensi membuat sumber penyakit baru bagi sekitarnya.
“Sementara itu jumlah tenaga penggali kubur di wilayah kota Solo sangatlah besar. Dari data yang ada mencapai kisaran 3000 hingga 3500 orang. Mereka tersebar di sekitar 52 TPU yang ada di kota Solo,” ujar BRM Kusumo Putro SH MH (48), seorang tokoh Masyarakat dan Penggiat Sosial Kemanusiaan di kota Solo yang sangat peduli dengan wong cilik.saat ditemui di TPU Purwoloyo kemarin siang (29/07/2021).

Menurut Kusumo, keberadaan para penggali kubur itu benar-benar sangat penting. Bahkan teramat vital dalam menghadapi perang corona selama ini. Mereka menjadi pejuang dan pahlawan yang benar-benar tangguh di masa pandemi. Kinerja mereka sungguh sangat luar biasa. Karena tidak semua orang bisa dan mau melakukan pekerjaan seperti mereka.
Bayangkan saja, di siang hari, saat panas matahari membakar kulit, mereka tetap bersemangat melaksanakan tugasnya. Di malam hari, bahkan dini hari menjelang subuh, mereka kerap masih harus menggali lubang demi lubang. Setiap lubang kubur membutuhkan waktu rata-rata sekitar 1,5 jam. Sementara mereka bekerja dalam satu tim. Satu tim terdiri dari 4 hingga 5 orang.
Sesuai prosedur, untuk TPU di wilayah Solo, termasuk zona bebas. Artinya warga dengan KTP manapun, bisa dimakamkan di seluruh TPU yang ada di kota Solo. Syaratnya, hanya menyerahkan copy surat kematian dari rumah sakit atau pihak berwenang. Serta membayar biaya pemakaman atau retribusi ke kantor TPU.

Perinciannya, sebagian masuk retribusi, atau masuk ke kas Pemkot Solo. Sedangkan sisanya untuk membayar gaji/honor para penggali kubur itu. Atau terkadang ada keluarga jenazah yang dikubur, juga memberikan sekedar uang lelah kepada tim penggali kubur tersebut. Dalam satu tim ada, setiap orang mendapatkan bisa mendapatkan antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu untuk setiap lubang kubur yang mereka gali. Selama pandemi berlangsung, setiap hari satu tim bisa mengerjakan puluhan lubang.
“Namun yang paling berat, waktu pengerjaan, atau selama menggali lubang tidak pernah tentu jadwalnya. Bisa pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari. Dan mereka harus siap sedia selama 24 jam tersebut. Karena jadwal kematian dan penguburan, khususnya korban memang tidak bisa diprediksi oleh siapapun,” beber Kusumo yang menjadi warga kehormatan TPU se-kota Surakarta ini.
Saat warga yang lain terlelap dalam pulas tidurnya, penggali kubur harus bermandi peluh membanting tulang di malam hari. Bahkan di saat mereka sedang asyik bercengkerama dengan anak istri. Atau sedang asyik menyeruput kopi, atau teh panas berteman pisang goreng, tiba-tiba harus diganggu untuk segera bekerja. Dituntut membuat lubang secepat mungkin, demi kelancaran pemakaman jenazah covid.
Dengan ritme dan kinerja seperti itu, jelas bahwa resiko mereka untuk terserang penyakit atau kelelahan sangat tinggi. Bahkan tak jarang jika malam hari, resiko mereka lebih tinggi. Apalagi peralatan yang mereka gunakan semuanya masih manual. Seperti cangkul, linggis, pengki, serta sekop, tentu menjadi ancaman tersendiri jika lengah sedikit akibat ngantuk ataupun kelelahan.
Sementara mereka juga paling rawan terpapar covid, karena mayoritas lubang yang mereka gali adalah untuk korban covid. Terlebih saat menimbun kembali lubang tersebut. Banyak kemungkinan segala sesuatu yang dibawa oleh tim pembawa jenazah, berisiko menularkan virus covid kepada para penggali kubur ini.

“Dengan kata lain, tugas, beban, dan resiko para penggali kubur sangatlah berat dibanding dengan apa yang sudah terima oleh mereka selama ini,” lanjut Kusumo lagi.
Bahkan saat mereka bekerja, mereka lebih banyak tidak dibekali dengan perlengkapan prokes yang standar. Seperti masker, baju APD, sepatu, dll. Belum lagi cek kesehatan secara rutin juga jarang mereka dapatkan atau bisa mereka dilakukan. Termasuk konsumsi vitamin untuk kekuatan dan stamina tubuh juga jarang mereka dapatkan.
Mengingat itu semua sudah tentu Pemkot Solo, harus menempatkan mereka dalam skala prioritas utama. Khususnya terkait segala program bantuan, ataupun kepedulian dalam bentuk apapun. Apalagi saat ini Pemkot Solo berencana akan memberikan bantuan sosial (bansos), kepada beberapa sektor pelaku usaha. Bantuan tersebut akan diberikan terkait dampak dari PPKM darurat, yang sekarang masih terus berlanjut.

Menurut Tjandi Haryono, anggota dari Komunitas Warga TPU Surakarta, dari 52 TPU yang ada di Solo, ada sekitar 3000-an lebih tenaga penggali kubur. Mereka terbagi dalam 1700-an KK yang tersebar di sekitar area makam TPU. Bahkan bisa jadi jumlahnya lebih dari itu.
“Dari uraian di atas, para penggali kubur bisa dikategorikan pejuang dalam banyak bidang. Yaitu pejuang sosial kemanusiaan terkait pandemi, sehingga juga termasuk pejuang dalam bidang kesehatan. Dan yang terakhir juga pejuang dalam bidang ekonomi. Baik untuk ekonomi keluarga mereka ataupun menyumbang PAD pemkot sendiri,” papar Kusumo lebih lanjut.
Secara umum, kehidupan ekonomi rata-rata penggali kubur jelas termasuk golongan tidak mampu. Atau paling tidak dalam golongan ekonomi bawah. Mereka memang mendapat upah untuk setiap pekerjaannya. Namun tidak semua orang mau melakukan pekerjaan seperti mereka. Karena memang sangat berat dan rentan dengan berbagai resiko buruk.

Secara resmi mereka memang bernaung di bawah dinas Perkim (Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman). Namun mengingat perjuangan mereka yang berat, mungkin ada dinas lain yang bisa bersama-sama peduli dengan mereka. Seperti dinas Kesehatan, Sosial, atau lainnya.
Yang pasti mereka semua dalah warga Solo, atau setidaknya warga yang bersama-sama mengais rejeki di kota Solo. Serta ikut andil dalam menyumbang PAD Solo. Bahkan ikut merawat areal makam agar tidak menjadi seperti hutan dan ilalang lebat. Sehingga mereka wajib dan harus mendapat skala prioritas dari perhatian Pemkot. Tanpa adanya mereka, peti-peti jenazah pasti akan berserakan di rumah-rumah sakit atau lembaga-lembaga kesehatan yang lain.

Selain para penggali kubur dan tukang sapu makam, masih ada sektor lainnya. Yaitu warga yang berjaulan makanan atau minuman di area dan sekitar makam. Tanpa mereka, para warga penggali kubur, ataupun para pelayat dan paziarah juga akan kesulitan dalam melepas dahaga di kala terik siang menyengat bumi.
“Semoga dengan adanya rencana Pemkot mengucurkan bansos sebesar ratusan milyar rupiah, bisa juga menjamah nasib para warga komunitas TPU tersebut,” pungkas Kusumo sangat berharap. (Med)
Sumber: www.majalahkisahnyata.com















