(MAJALAHKISAHNYATA.Com) BOYOLALI – Tiga buah gunungan hasil bumi, serta tujuh kendil berisi air keramat, dikirab menyusuri jalanan desa pada hari Jumat (05/09/2025) kemarin. Tak lupa beberapa pusaka keramat juga ikut mengawal bendera merah putih sepanjang 200 meter. Rombongan kirab lalu menuju ke satu titik keramat desa. Yaitu Punden Ki Ageng Wono Kusumo di Desa Pojok, Nogosari, Boyolali, Jateng. Lalu untuk apa kegiatan tersebut?
Sebelumnya, warga desa Pojok sudah menjadikan tradisi Merti Desa, atau tasyakuran bersama setiap tahun. Hal itu sebagai simbol nyata. Atau wujud rasa syukur warga desa atas semua rejeki dan limpahan kehidupan dari Tuhan yang Maha Esa yang sudah diberikan lewat alam yang ada.

Bendera Merah Putih 200 Meter Dibawa Menuju Balai Desa
Namun di tahun ini, kegiatan Merti Desa mulai dikemas dalam nuansa Kirab Budaya sekaligus sebagai kegiatan memperingati Hari Kemerdekaan Ri yang ke-80. Hal itu karena kegiatan tersebut bisa menjadi wadah dari semua potensi yang ada di Desa Pojok.
“Baik potensi seni budaya, Pendidikan, UMKM, maupun nilai-nilai spiritualitas dari Desa Pojok semuanya bisa dipresentasikan dalam kegiatan Kirab Budaya Merti Desa ini,” ungkap Fitriyanto, selaku Kades Desa Pojok di sela-sela acara sebelum Kirab Budaya dimulai.
Empat bulan sebelumnya, panitia sudah bergerak menyiapkan segala persiapan terkait acara sakral tersebut. Sehingga di hari H, digelarkan acara Kirab Budaya yang melibatkan semua elemen masyarakat. Mulai dari pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Pojok beserta seluruh perangkat dan jajarannya, hingga tokoh-tokoh agama dan seni budaya masyarakat desa Pojok.

Berdoa Sebelum Memasuki Komplek Punden
Sebelumnya, di bulan Agustus Pemdes Pojok juga mengadakan lomba K-5. Yaitu lomba yang bisa diikuti oleh setiap RT. Penilaian lomba mencakup Kebersihan, Kerapian, Kesehatan, Keindahan, serta Keasrian.
“Dengan adanya lomba tersebut, warga desa diharapkan bisa semakin memperkokoh semangat kegotong-royongan dan hubungan sosial. Terutama dalam kesadaran mengelola lingkungannya masing-masing, Sehingga terwujud lingkungan yang sehat dan asri seperti yang diidamkan oleh semua pihak,” lanjut Kades Fitriyanto.
Dalam kegiatan Kirab Budaya itu, panitia sengaja mengambil tema, yaitu Memayu Hayuning Bawono, Run Kuncaraning Bangsa Gumanthung ing Budaya. Tema tersebut diangkat mengingat betapa luar biasanya, serta kaya-rayanya ragam budaya yang ada di Nusantara.

Berdoa Sebelum Mencampur Tujuh Air Sendang Keramat
Termasuk semua potensi budaya yang ada di desa Pojok. Tentu menjadi sebuah kekuatan yang bisa diapresiasi serta menjadi kebanggaan bersama untuk kemajuan masyarakat Desa Pojok sendiri.
Untuk mengaplikasikan tema tersebut, maka peserta Kirab membawa spanduk yang bertuliskan Pojok Bertasbih, Rukun Agawe Sentosa, Tentren Agawe Ayem. Dimana Bertasbih sendiri merupakan singkatan dari Beriman, Tertib, Asri, Sehat, Bersih, Indah, dan Harmonis.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi bagian sejarah yang bisa dikenang oleh pemuda-pumudi Desa Pojok. Dengan kirab budaya, anak-anak muda juga bisa mengenal budaya yang ada di desanya sendiri,” pungkasnya sebelum melanjutkan acara.















