MAJALAHKISAHNYATA.Com, Solo– Sekitar 56 anggota seniman yang tergabung dalam Keluarga Pelukis Solo Raya (KPSR), berkumpul di halaman galeri lukis bersama. Atau tepatnya di ruang galeri area samping timur dari Gedung Museum Radya Pustaka, Sriwedari, Solo, Jateng pada hari Minggu malam (27/04/2025) kemarin. Lalu apa tema pertemuan tersebut?
Setelah vakum sekitar 20 tahun, Komunitas para pelukis, atau yang tergabung dalam Keluarga Pelukis Solo Raya (KPSR), kembali menggelar acara pertemuan. Yaitu Halalbihalal yang digelar dengan cukup sederhana. Walaupun demikian, tidak mengurangi semangat para anggota untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Mereka saling bertemu, saling bermaafan. Dan yang paling penting, mereka bisa saling berbagi pengalaman selama ini. Khususnya pengalaman dan pencapaian mereka, seputar profesi sebagai seorang seniman atau seniwati.
Dalam acara halalbihalal tersebut, selain meresmikan galeri kecil bersama, sekaligus juga memutuskan untuk menjadikan KPSR sebagai wadah resmi bagi semua anggotanya. Terutama untuk mewujudkan impian-impian semua anggotanya dalam meraih masa depan mereka sebagai seniman lukis atau pelukis yang semakin berkualitas dan lebih mulia hidupnya.

Galeri Seni Yang Sempit dan Tidak Representatif Bisa Membelengu Proses Kratif Seniman
Anggota dari KPSR, mayoritas memang pelukis dari semua macam aliran lukis. Bahkan ada sebagian kecil anggota yang juga dikenal sebagai perupa atau seniman patung. Di malam itu, semua tampak gembira, bisa kembali melepas kepenatan hidup.
“Hari ini kita dikasih tempat oleh Dinas Pariwisata Surakarta. Yaitu Pos kecil atau ruang galeri kecil sekadar untuk memajang hasil karya para anggota kita,” terang Edi Sudarno, selaku koordinator acara dari halalbihalal yang digelar oleh KPSR tersebut.
Ditemui di sela-sela acara, pria yang akrab disapa Edi Semar ini mengungkapkan, bahwa selain meresmikan galeri kecil tersebut, acara halalbihalal itu sekaligus juga meresmikan keberadaan KPSR dengan lebih tegas dan nyata. Dimana sebelumnya, banyak anggota memang vakum dan jarang melakukan kegiatan pertemuan seperti malam itu.
Sesuai namanya, yaitu Keluarga Pelukis Solo Raya, maka Edi mengatakan bahwa sifat wadah tersebut artinya memang keluarga. Sehingga apa yang menjadi milik KPSR benar-benar harus milik semua anggota. Sehingga dapat digunakan semaksimal mungkin agar lebih bermanfaat terkait dengan peran mereka sebagai seniman lukis.

Penampakan Sebagian Anggota KPSR Saat Halalbihalal
Tak hanya itu, dalam KPSR sendiri juga bergabung beberapa komunitas kecil pelukis, sesuai dengan karakter aliran seni atau ciri khasnya masing-masing. Misalnya ada komunitas pelukis langsung atau kerap melukis model secara langsung face to face. Juga komunitas pelukis kasepuhan, lalu juga dari sanggar lukis anak-anak dan remaja se-Solo Raya.
“Semoga dengan adanya galeri kecil ini, bisa menjadi tempat atau pusat informasi terkait profil seniman, karya-karya seniman, dan informasi lainnya terutama dalam dunia lukis. Baik informasi dari Pemkot maupun dari sumber-sumber yang lain,” lanjut Edi lagi.

Edi Sudarno Koordinator Acara Halalbihalal KPSR
Namun, tentu saja galeri yang tidak seberapa besar ukurannya tersebut, tentu jauh dari kata layak dan ideal untuk sebuah ruang berkesenian. Terutama untuk para pelukis dalam menuangkan ide, gagasan, serta karya-karya mereka secara nyata.
Artinya karya yang benar-benar bisa diapresiasi oleh para penikmat seni, dan masyarakat secara lebih luas, lebih terbuka. Dan tentunya juga lebih membuka peluang untuk interaksi berkesenian dengan lebih leluasa. Baik antara sesama seniman, maupun antara seniman dan masyarakat, atau pihak-pihak lainnya.

Galeri dan Gedung Kesenian Megah Harus DIbangun di Kota Solo
“Sehingga kami nanti juga akan menagih janji. Khususnya kepada Bapak Respati, dan Ibu Astrid Widayani selaku Walikota dan Wakil Walikota Solo. Dimana dulu mereka berdua pernah menjanjikan kepada kami untuk sebuah berdirinya Gedung atau Galeri Seni yang benar-benar representatif. Sehingga benar-benar bisa mewadahi para seniman sebagai ruang berkesenian secara totalitas,” ujarnya dengan sangat serius.
Sementara itu dalam acara tersebut juga hadir tokoh masyarakat kota Solo dari Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM), yaitu Dr. BRM Kusuma Putra S.H, M.H. Sosok yang juga dikenal sebagai pemerhati seni dari Dewan Pemerhati Penyelamat Seni dan Budaya Indonesia (DPPSBI) sangat antusias dengan adanya kegiatan Halalbihalal KPSR tersebut.
“Solo sebagai kota seni dan budaya, tentu wajib hukumnya untuk mempunyai galeri seni sendiri. Tentunya sebuah gedung galeri seni yang megah, representatif, dan mampu mewadahi para seniman untuk menyalurkan semua kebutuhan berkeseniannya,” ujar Kusuma Putra kepada beberapa awak media yang hadir.
Ditambahkannya, Kota Solo atau Solo Raya pada umumnya adalah gudangnya para pelukis hebat. Namun ironisnya, selama beberapa periode kepemimpinan atau pemerintahan, tak satupun yang pernah berpikir untuk membuat sebah galeri seni yang megah. Atau sebuah galeri yang benar-benar bisa menampung semua seniman dalam ruang berkesenian.
Padahal setiap tahun di wilayah Solo dan sekitarnya, selalu melahirkan seniman-seniman baru. Sehingga Kusuma Putra pun sangat setuju dengan langkah dari KPSR untuk menuntut Pemkot Solo, agar segera mewujudkan adanya sebuah Galeri. Sekaligus Gedung Kesenian yang megah, serta representatif dan strategis.

Dihibur Oleh Makobar Music Entertaintment
“Sehingga setiap pengunjung ataupun wisatawan yang masuk ke kota Solo dapat dengan mudah mencari dan menikmatinya terkait wisata seni dan budaya tersebut,” lanjut Kusuma lagi.
Di tempat yang sama seorang perupa lukis kondang, yaitu Gigih Wiyono sangat menaruh harapan besar dengan keberadaan KPSR yang kini mulai menggeliat lagi. Ia mengaku bahwa sejak jaman Era Jokowi hingga Mas Gibran memimpin kota Solo, ia bersama rekan-rekan seniman lain tak pernah lelah mengajukan sebuah event yang sangat penting terkait kemajuan seniman.
“Event yang sangat penting itu adalah Solo Biennale. Namun sayangnya hingga detik ini, event yang sangat penting tersebut tidak pernah mendapat restu dari beliau-beliau,” ujarnya.
Event pameran Biennale, adalah sebuah event bergengsi dua tahunan, atau pameran seni kontemporer berskala besar. Khususnya untuk seniman lukis dan seniman patung. Dimana dalam ajang tersebut biasanya mendapat apresiasi dari masyarakat pecinta seni ataupun tokoh-tokoh seniman dari seluruh dunia.

Gigih Wiyono (Paling Kanan) Beharap Terwujudnya Solo Biennale
Seperti yang sering dilakukan oleh kota-kota besar lainnya di Indonesia. Terutama di kota-kota di belahan Eropa. Dipercaya kota atau wilayah yang berani menggelar event biennale, tentu juga diyakini menjadi gudang dari seniman-seniman berkelas.
“Sehingga harapan saya, kota Solo nantinya benar-benar bisa memiliki event Biennale sendiri. Atau tidak kalah dengan kota-kota lainnya,” pungkas Gigih optimis.
Acara halalbihalal itu sendiri semakin meriah dengan iringan musik dan penyanyi dari Makobar Entertainment. Dan baru berakhir sekitar pukul 23.00 malam. (Dia)















