BERSIHKAN DESA DARI ROH JAHAT KELELAWAR RAKSASA DIBAKAR WARGA DALAM RITUAL OGOH-OGOH

SEPASANG OGOH-OGOH BATARA KALA DAN BAJANG NALA SIAP DIBAKAR

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Boyolali– Sebuah gunungan hasil bumi menjadi rebutan, setelah sepasang ogoh-ogoh seram dibakar oleh warga. Adegan tersebut menandai puncak ritual upacara pangerupukan ogoh-ogoh, oleh umat Hindu dari Dukuh Wonodadi, Desa Karanganyar, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Minggu malam lalu (10/03/2024). Lantas apa saja makna dari ritual sakral tersebut?

Menjelang hari raya Nyepi, umat Hindu di beberapa wilayah Indonesia masih melestarikan tradisi pangerupukan ogoh-ogoh. Yaitu mengarak ogoh-ogoh di sepanjang jalan. Ogoh-ogoh sendiri adalah patung raksasa yang menjadi simbol dari sifat-sifat negatif.

DIAWALI DENGAN KIRAB DI SEPANJANG JALAN DESA

Tujuannya untuk menyerap semua energi negatif yang ada. Baik dari diri manusia maupun dari alam lingkungan. Setelah energi negatif terkumpul, maka sepasang ogoh-ogoh tersebut dibakar agar suasana kembali tenang, damai, dan tentram.

“Sehingga umat manusia akan merasa tentram, atau terhindar dari sifat negatif terutama umat Hindu saat beribadah dalam Catur Brata penyepian,” ujar Wandi Siswomiharjo, pamangku dari Pura Bhuana Puja Desa Karanganyar.

Dijelaskannya, bahwa upacara pangerupukan ogoh-ogoh tersebut mempunyai makna membuang sifat jahat atau negatif. Sifat yang selama ini sering disematkan pada wujud raksaka Buta Kala.

Dengan mengumbar simbol ogoh-ogoh di jalan lalu membakarnya, bertujuan untuk menetralisir agar terjadi keseimbangan alam. Baik buana agung atau alam semesta maupun buana alit atau dalam diri manusia sendiri.

KADES KARANGANYAR MARYANA SE SAAT BERIKAN SAMBUTAN

Dalam ajaran Hindu dipercaya terdapat enam musuh yang dipercaya menjadi sifat negatif yang dikenal dengan nama Sad Ripu. Yaitu kama (hawa nafsu), lobha (keserakahan), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), moha (kebingungan), serta matsarya (iri hati).

“Jika manusia sudah bisa mengendalikan enam musuh tersebut, dunia akan tentram dan jauh dari rasa amarah,” sambungnya lagi.

Pada tahun Saka 1946 atau 2024 Masehi ini, warga Desa Karanganyar kembali membuat sepasang patuh ogoh-ogoh. Kali ini tokoh yang diambil adalah raksasa Batara Kala atau makluk yang kerap disebut Buto atau roh jahat sang penguasa waktu. Makluk seram ini bersanding dengan tokoh yang juga tak kalah seram, yaitu Bajang Nala, atau raksasa kelelawar yang dikenal sangat rakus perangainya.

BANSER TAMANSARI IKUT MENGAWAL KEGIATAN OGOH-OGOH

 Sebelum rangkaian atraksi ogoh-ogoh, juga dilakukan upacara Mecaru atau pecaruan di Pura Desa setempat. Dalam upacara tersebut dilakukan ritual Mancasata atau persembahan lima ekor ayam dengan lima warna berbeda. Yaitu ayam warna putih, merah, hitam, kuning, dan pancawarna (brumbun).

Tepat pada pukul 16.00 sore, sepasang ogoh-ogoh diarak menyusuri jalan desa. Paduan musik rancak dengan gerakan unik ogoh-ogoh yang diarak, menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Ribuan warga baik dari Desa Karanganyar maupun dari luar desa ikut menyaksikan pawai ogoh-ogoh tersebut.

ENDRIYANTO KETUA PANITIA PANGERUPUKAN OGOH-OGOH

Bahkan beberapa komunitas umat Hindu dari wilayah Klaten dan sekitarnya juga terlihat berbondong-bondong mengikuti kegiatan sakral sekaligus hiburan warga itu. Menjelang pukul 17.00, rombongan ogoh-ogoh sampai di lapangan desa. Sambil menunggu detik-detik upacara pembakaran ogoh-ogoh, ditampilkan beberapa atraksi kesenian tradisi dari warga.

Diantaranya kesenian tari tradisonal dari komunitas SD Negeri 2 Desa Karanganyar, juga tarian Sekar Puri dari Sanggar anak-anak Buana Puja, serta tarian yang sangat epik yaitu Topeng Ireng dari SMP Bhineka Karya.

GUNUNGAN SIAP DIPERSEMBAHKAN WARGA

Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus PHDI Tamansari, pejabat Kabupaten, perangkat Muspika, serta Pemerintah Desa Karanganyar sendiri. Kades Karanganyar, yaitu Maryana SE ikut hadir dalam acara tersebut. Beliau sangat mengapresiasi kegiatan keagamaan tersebut.

“Dengan Kebhinekaan yang ada, kita mampu saling menjaga kerukunan dan kebersamaan demi terwujudnya kemajuan dan pembangunan desa,” ujar Maryana dalam kata sambutannya.

Dikatakannya dengan semua perbedaan dan karakteristik masyarakat desa, terutama umat agama yang berbeda-beda, diharapkan bisa terus terjaga kerukunan dan keharmonisan antara warga.

DIHADIRI PEJABAT MUSIKA TAMANSARI

Walaupun mungkin masih banyak kekurangan, kegiatan Pangerupukan Ogoh-ogoh tersebut diharapkan bisa menjadi ajang atau destinasi wisata desa. Bahkan bisa menjadi semacam maskot wisata dari desa Karanganyar.

Ketua panitia kegiatan ogoh-ogoh tersebut, yaitu Endriyanto menghaturkan terima-kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta mendukung penuh acara tersebut.

Termasuk kepada Pemerintah Desa Karanganyar, yang selalu konsisten ikut melestarikan tradisi dan budaya daerah dalam bentuk dukungan moril maupun materil secara nyata.

PASANGAN OGOH-OGOH SAAT DIBAKAR

Juga kepada komunitas Banser Karanganyar yang dengan tulus ikut serta mengawal dan memperlancar jalannya kegiatan. Serta kepada komunitas Pemuda Tawon Wonodadi yang menjadi bagian dari panitia inti.

Mewakili Bupati Boyolali, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Kesra yaitu Waluyo Jati SE, juga ikut hadir dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa kegiatan itu menjadi bukti nyata bahwa toleransi umat beragama di Desa Karanganyar bisa menjadi contoh, khususnya bagi masyarakat Boyolali secara umum.

Hal tersebut memang tidak mengada-ada. Kegiatan Pangerupukan ogoh-ogoh tersebut benar-benar menjadi kolaborasi penuh antara warga umat Hindu dan Muslim serta umat agama lainnya di desa Karanganyar. Mereka bahu-membahu demi kelancaran kegiatan tersebut.

PAMANGKU WANDI SAAT BACAKAN DOA

Tepat sekitar pukul 22.00 malam pasangan ogoh-ogoh dibakar di tengah lapangan desa atau lapangan Dukuh Wonodadi. Barisan pembawa obor melakukan ritual mengitari ogoh-ogoh sebelum melakukan eksekusi pembakaran.

Tak lupa teriakan jeritan histeris dari umat di pinggir lapangan, mengiringi ritual sakral tersebut. Suasana benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Bersamaan dengan hangusnya ogoh-ogoh, di sudut lapangan lain juga dilakukan persembahan gunungan sayuran dan buah-buahan kepada warga yang hadir.

Tak ayal, wargapun berebutan mengambil beraneka buah dan sayur yang tergantung di gunungan tersebut. Mereka tampak senang dan puas setelah berhasil mendapatkan berkah dari gunungan tersebut. (Mul/Med)

Sumber : www.majalahkisahnyata.com

SEMBUHKAN SESAMA TANPA EFEK SAMPING JADI PRIORITAS UTAMA MISI SOSIAL PADEPOKAN IPN

SOLO – Puluhan warga rela mengantri untuk menuntaskan masalah hidupnya. Terutama masalah yang berkaitan dengan BACA LEBIH LANJUT.......

PULUHAN PEMUDA DI KLATEN RELA DISALIB UNTUK TEBUS DOSA (AKSI TEATRIKAL PROSESI JALAN SALIB DI GUNUNG WIJIL)

KLATEN ; Beberapa pemuda terlihat kesakitan berlumuran darah, saat tubuh mereka disalib di sebuah bukit BACA LEBIH LANJUT.......

SAMPAH PLASTIK DAPAT MENJADI BOM WAKTU… JIKA TIDAK DIKELOLA DARI SEKARANG..

SOLO ; Setiap hari Jumat di akhir bulan, komunitas ini sangat antusias menyasar ke sekolah-sekolah. BACA LEBIH LANJUT.......

INILAH PESAN PENTING DARI KADES DALAM ACARA BERSIH DESA-SADRANAN.. WARGA DESA BOTO WAJIB TAHU…

KLATEN : Panggung wayang kulit menyedot perhatian warga pada hari Kamis Pon kemarin (07/03/2024). Tepatnya BACA LEBIH LANJUT.......

HADIRI DEKLARASI RELAWAN ANAK BANGSA DI KLATEN.. INILAH PESAN MENOHOK DARI KETUM RAB PUSAT AGUS WINARNO TERKAIT KNALPOT BRONK

KLATEN : Ribuan simpatisan Prabowo- Gibran, mengikutl acara Deklarasi dan Konsolidasi Relawan Anak Bangsa (RAB) BACA LEBIH LANJUT.......

MISTERI KAMAR NOMOR 13 DI HOTEL CAKRA YANG TIDAK BOLEH DIBUKA…ADA APA ?

SOLO : Sebuah hotel angker dikenal dengan nama hotel Cakra di wilayah Kelurahan Kemlayan, Kecamatan BACA LEBIH LANJUT.......

About admin 390 Articles
Mapag Pedhut

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*