MAJALAHKISAHNYATA.COM, Surakarta: Menjelang berakhirnya bulan Suro, beberapa wayang kulit keramat digelar oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Salah satunya adalah wayang Kyai Kanyut. Konon, wayang kuno ini terbuat dari kulit manusia. Benarkah?
Setiap menjelang masa berakhirnya bulan Suro, pihak Kraton Surakarta selalu menggelar ritual khusus. Yaitu ringgitan, atau pagelaran wayang kulit yang dikenal dengan nama ringgitan tutup suran. Dalam pagelaran ini, selalu dikeluarkan koleksi wayang-wayang keramat, milik Kraton Surakarta.

Asisten Dalang Juga Bertugas Untuk Melanjutkan Pementasan
Untuk tahun 2022 ini, atau di Tahun Jawa 1956 tahun Ehe, juga dipakai sebuah wayang keramat. Yaitu Kyai Kanyut sebagai paraga atau tokoh dari wayang Puntadewa. Untuk pentas tutup suran, digelar di Kori Kamandungan Kraton pada Sabtu malam kemarin (27/08/2022).
Sebelum dipentaskan, Kyai Kanyut lebih dulu diserahkan langsung oleh Raja Kraton Surakarta. Yaitu Sinuwun Paku Buwono XIII kepada sang Dalang KGPH Benowo. KGPH Benowo sendiri adalah adik dari sang raja. Dan dikenal sangat interaktif dengan penonton saat mendalang. Sehingga suasana pentas wayang menjadi lebih geeer dan serasa hidup.

Dihadiri Oleh Jajaran Pengurus dan Ketua Forum Budaya MAtaram
Dalam pentas kali ini, lakon yang dibawakan berjudul Sesaji Raja Suya. Yang mengisahkan tentang persembahan istimewa kepada para dewa, atau penguasa alam, untuk tujuan mulia seluruh umat manusia.
Mengingat sakralnya lakon tersebut, maka wayang yang dibawakan juga terhitung wingit. Wayang Kyai Kanyut diduga sudah dibuat sejak jaman awal 1900-an Masehi. Sehingga usianya sudah sangat tua.
Pentas wayang lalu dilanjutkan sekitar pukul 21.00 malam. Dalam acara ringgitan tersebut juga dihadiri oleh Raja Kraton Kasunanan Surakarta, yaitu Sinuwun Paku Buwono XIII beserta Prameswari, Kanjeng Ratu Paku Buwono XIII (Asih Winarni), serta Putra Mahkota, KGPH Purbaya.

Dr BRM Kusuma Putra SH MH Saat Sungkem Berpamitan Dengan Sinuwun PB XIII
Juga berdatangan, para kerabat Kraton atau sentana dalem, abdi dalem, serta pejabat dari Pemkot Solo hingga pejabat setingkat Muspika se-kota Solo. Diantara para tamu undangan, juga terlihat beberapa anggota dari Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM).
FBM selama ini memang dikenal selalu konsisten, dalam nguri-uri atau menjaga adat-istiadat serta tradisi budaya masyarakat Jawa. Termasuk dalam perhelatan ringgitan wayang kulit tutup suran tersebut, mereka hadir sebagai bentuk apresiasi terhadap tradisi seni dan budaya Jawa yang sangat adiluhung.

Pementasan Juga DIdukung Oleh Para Seniman Seniwati dari Kampus ISI
“Kami mewakili Forum Budaya Mataram, sangat mengapresiasi pementasan wayang kulit tutup suran dari Kraton Surakarta ini. Karena punjering budaya Jawa memang berasal dari kota Solo (Kraton Surakarta),” tutur Dr. BRM Kusumo Putro S.H, M.H (49), ketua dari Forum Budaya Mataram, di sela-sela acara pementasan wayang tutup suran tersebut.
Dengan adanya pementasan wayang tutup suran tersebut, bisa menjadi simbol bahwa kesenian budaya Jawa bisa tetap lestari. Forum Budaya Mataram juga mendoakan agar Sinuwun Paku Buwono XIII beserta permaisuri, selalu sehat dan panjang umur. Serta selalu diberi kekuatan dan berkah kemuliaan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Sehingga mereka berdua, bisa selalu memimpin Kraton Surakarta dengan arif dan bijaksana. Dan dicintai oleh semua keluarga besar Kraton, dan masyarakat Solo pada umumnya. Meskipun saat ini, Kraton tidak memegang kekuasaan wilayah. Namun eksistensinya masih sangat penting dalam menjaga nilai-nilai luhur. Khususnya seni, tradisi, adat dan istiadat budaya Jawa.

Mencintai Budaya Sendiri Perlu DItanamkan Sejak Kecil
“Apalagi di dalam kraton masih tersimpan benda-benda serta koleksi yang tak terhitung jumlahnya dari jaman dulu. Dan semuanya itu bisa menjadi bukti kebesaran serta peradaban Jawa (Mataram) di masa lalu,” papar Kusumo lagi.
Tepat pada pukul 00.00, denting lonceng dari menara bangsal kraton dibunyikan. Pertanda, bahwa pentas wayang dihentikan sejenak untuk melantunkan doa sakral. Semua yang hadir terdiam membisu.
Tak ada suara sedikitpun. Bahkan suasana juga gelap gulita, karena semua lampu sengaja dimatikan. Susana benar-benar sangat sakral dan membuat merinding. Apalagi asap bau dupa dan kemenyan menyeruak menusuk hidung. Konon, dalam situasi tersebut, bagi siapa pun yang percaya, doa apa saja bisa terkabul dengan cepat.

Pentas Wayang Kulit Tutup Suran dimainkan Oleh Ki Dalang KGPH Benowo
Selanjutnya setelah lonceng berdenting 12 kali, pentas wayang kulit dilanjutkan kembali. Dan berakhir hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Lantas benarkah wayang pusaka Kyai Kanyut terbuat dari kulit manusia?
Ditemui di tempat terpisah, KGPH Puger mengatakan bahwa sebenarnya tak ada wayang kulit yang benar-benar dibuat dari bahan kulit manusia. Apalagi koleksi wayang yang ada di dalam Kraton Surakarta.

Pengurus Yayasan FBM Tetap Setia Menunggu Cawisan
Dimana Kraton Surakarta adalah sebuah lembaga adat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta berdasar agama (Mataram Islam). Hal itu atau mitos tentang wayang dari kulit manusia, hanyalah cerita yang dilebih-lebihkan saja dari para dalang yang mungkin pernah bersentuhan, atau mempunyai pengalaman gaib dengan wayang-wayang yang dianggap sakral.
“Memang ada istilah wayang kulit wong, atau wayang kulit manusia. Namun itu hanyalah karya klasik dari empu wayang di jaman dulu. Dimana orientasinya untuk pementasan,” ujar Gusti Puger seperti dikutip dari laman www.perwara.com

Wayang Sakral Kyai Kanyut DIserahkan Kepada Ki Dalang Oleh SInuwun PB XIII
Artinya agar bisa dilihat dari kejauhan dalam pementasan, sekaligus sebagai sebuah pusaka dalam kraton, maka wayang dibuat lebih besar dari wayang kulit biasa. Malah hampir sebesar tinggi manusia.
Dalam sejarahnya wayang memang hanya dibuat dari rerumputan yang diikat, dan bentuknya masih sangat sederhana. Diperkirakan sudah dibuat sekitar tahun 1500 sebelum masehi. Dan hanya digunakan dalam ritual pemujaan roh-roh nenek moyang dalam upacara adat Jawa.
Setelah itulah baru menggunakan kulit binatang atau kulit kayu. Wayang kulit tertua ditemukan atau diperkirakan berasal dari abad ke-2 Masehi. Lalu berkembang sampai seperti saat ini. (Dia)
sumber: http://majalahkisahnyata.com















