Misteri RITUAL Sakral Berebut AYAM Hidup Dalam Tradisi MONDOSIYO….

Berebut Ayam Hingga ATap Balai Pasar Pancot

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Karangnyar- Satu lagi tradisi unik dari kawasan wisata sejuk Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah ritual acara bersih desa dengan menyambangi tempat-tempat yang dianggap keramat. Seperti pepunden, batu, candi, dan pasar. Namun puncak acara yang ditandai dengan pelepasan sejumlah ayam hidup adalah yang paling ditunggu.

Ayam-ayam yang dilepas di atas atap pasar menjadi rebutan pengunjung yang hadir. Itulah atraksi paling menarik dan menjadi daya tarik utama dari tradisi Mondosiyo. Atau banyak yang menyebut dengan Mondosiyo-nan.

“Sesuai namanya, kami mengadakan perayaan ini pada hari selasa Kliwon pada wuku Mondosiyo,” kata Tokoh Warga Dusun pancot,  Sulardiyanto (47) pada KISAHNYATA.

Berkumpul dan Berdoa Sebelum Ritual Siaram Batu Gilang

Wuku Mondosiyo adalah salah satu wuku (wuku ke-14) dalam kalender Jawa (ada 30 wuku dalam kalender Jawa). Untuk tahun 2012 upacara terakhir dilaksanakan pada akhir bulan Maret lalu.

Upacara adat Mondosiyo diselenggarakan secara turun temurun berdasar cerita legenda Prabu Baka. Yaitu seorang raja kejam yang akhirnya berhasil dibunuh oleh tokoh Putut Tetuko (Eyang Kacanegara) dari pertapaan Pringgondani.

Acara ini diadakan di beberapa tempat atau dusun secara serentak sesuai dengan petilasan dan adat desa masing-masing. Namun ritual paling tua adalah ritual Mondosiyo yang diadakan di dusun Pancot, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Tak ada data pasti kapan acara ini mulai diselenggarakan.

Yang pasti sejak nenek moyang dulu, acara ini sudah ada. Selain paling ramai pengunjung, biasanya juga dihadiri pejabat-pejabat terkait. Bahkan seringkali produk-produk tertentu seperti otomotit dan elektronik ikut nebeng berpromosi dalam acara ini.

Air Badek SIap Dipakai Upacara Mondosiyo

Asal-usul nama dusun Pancot sendiri berdasar budaya lisan dari cerita legenda itu sendiri. Yaitu saat adegan badan Prabu Baka dipancot (diinjak) ke tanah oleh Putut Tetuko dan kepalanya dibanting ke sebuah batu. Sesuai perkembangan legenda, akhirnya batu tersebut diberi nama batu Gilang (watu Gilang).

Sejak saat itulah nama dusun itu menjadi dusun Pancot sesuai tradisi lisan yang berkembang turun temurun. Adapun tempat bekas gigi taring Prabu Baka akhirnya tumbuh tanaman bawang putih. Selain itu bekas gigi gerahamnya tumbuh tanaman bawang merah.

“Sejak saat itulah sampai sekarang tanaman bawang, baik bawang merah dan bawang putih menjadi komoditas andalan atau tanaman pertanian utama dari masyarakat desa Pancot,” sambungnya lagi.

Dalam cerita legenda itu, sebelum ajal, Prabu Baka berpesan agar setiap jatuh wuku Mondosiyo di hari Selasa Kliwon diadakan upacari bersih desa Mandasiya, dengan memberi sesaji di tempat-tempat keramat seperti kalau di Dusun Pancot dilakukan di Bale Pathokan (tempat perkelahian berlangsung ), Watu Gilang (tempat kepala Prabu Baka dihancurkan), dan Pertapan Pringgondani (tempat pertapan Putut Tetuko atau Eyang Kacanegara).

Ritual Berebut Ayam Hidup

Penyelenggaraan upacara Mandosiyo di Dusun Pancot diadakan di kompleks punden Bale Pathokan, yang di dekatnya terdapat watu Gilang yang masih dikeramatkan. Prosesi pertama adalah pembuatan sesaji dua hari sebelum acara puncak. Sesaji terdiri dari beberapa jajanan pasar.

Antara lain ketan, buah-buahan, nagasari, apem, nasi tumpeng, beras kuning, dan yang paling istimewa adalah air badhek (tape) yang ditaruh dalam wadah kendil-kendil kecil. Jumlah kendilnya ada puluhan menyesuaikan jumlah tokoh atau tamu penting yang hadir nantinya.

Setelah sesaji matang selanjutnya ditaruh dalam punden Bale Patokan keesokan harinya. Selama berada dalam punden, masyarakat umum bebas untuk melakukan doa-doa puji syukur atau permohonan tertentu kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat perantara eyang Notokusumo. Eyang Notokusumo adalah roh leluhur yang dipercaya sebagai penunggu gaib atau yang mbaurekso tempat pepunden tersebut.

Sulardiyanto-Sesepuh dan Tokoh Dusun Pancot

Sambil menunggu sesaji di pepunden dikeluarkan dalam puncak acara, maka acara hiburan digelar. Yaitu tarian Reog dan Kuda Lumping. Tarian reog digelar di jalan-jalan desa dengan garis start yang berbeda. Ini karena banyak kelompok kesenian reog di desa setempat yang ikut bergabung. Jadi mereka berangkat dari tempatnya masing-masing. Namun semuanya menuju garis finish yang sama, yaitu kompleks halaman Batu Gilang dan Punden Bale Patokan.

Ritual Berebut Ayam… Dalam Tradisi Mondosiyo…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Karanganyar- Ada tradisi unik dari kawasan wisata sejuk Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. Yaitu ritual acara BACA LEBIH LANJUT.......

Begini Aksi Chef Bara… Dalam Event IGIS 2022 di Ubud Bali

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Ubud-Bali: ARISE+Indonesia yang menjadi fasilitas dukungan perdagangan yang didanai oleh Uni Eropa memfasilitasi Talkshow BACA LEBIH LANJUT.......

Dapat Mimpi Bintang Jatuh Cewek Cantik Ini Mendadak Usung ANGKRINGAN dan KANGEN SWARAMU

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Sukoharjo: Setelah terdampar beberapa tahun lamanya di belantara musik di Nusa Tenggara Barat (NTB), BACA LEBIH LANJUT.......

Ini Dia Sosok Pelanggan Yang Beruntung Dapat Hadiah Mobil Hyundai CRETA dari Dealer Hyundai Solo Baru…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Sukoharjo: Alunan live musik santai mengiringi sebuah acara penting, dari Dealer Hyundai Solo Baru, BACA LEBIH LANJUT.......

Ternyata Inilah Fakta Sejarah…Dibalik Pengukuhan Nasi Liwet Sebagai Ikon Kuliner Kota Solo..

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo: Sekitar 1000 pincuk lebih, berisi nasi liwet dibagikan secara gratis kepada masyarakat kota BACA LEBIH LANJUT.......

Senopati Mataram… Siap Kawal dan Jaga Tradisi Adat Budaya Nusantara…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo: Hidangan soto segar dan atraksi kesenian Reog, disajikan dalam sebuah acara Halal-Bihalal di BACA LEBIH LANJUT.......

About admin 304 Articles
Mapag Pedhut

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*