MAJALAHKISAHNYATA.COM, Karanganyar– Diawali dengan upacara selamatan serta ritual kecil, pembangunan Pendapa di Balai Desa Tlobo, Jatiyoso, Karanganyar, Jateng dimulai. Target pembangunan direncanakan selesai dalam waktu tiga bulan. Dimulai sejak awal Agustus 202, saat ini pembangunan sudah tahap pasca pondasi selesai.
Winahyu Tri Prasetyo SE, (45), atau yang akrap dipanggil Win Bawang, menjelaskan bahwa pendapa di balai desa Pemerintahan Desa Tlobo, akan menjadi salah satu bangunan penting. Bahkan menjadi kebanggaan warga desa Tlobo. Pendapa itu nantinya akan menjadi milik seluruh warga desa untuk berbagai kepentingan.

“Jadi meskipun di masa pandemi, Alhamdulilah kami akhirnya bisa membangun pendapa, meskipun harus dengan tahapan-tahapan serta perhitungan yang matang dulu sebelumnya,” ujar Win Bawang.
Bangunan pendapa itu sengaja didesain dengan bentuk limas. Bahan utama, terutama tiang-tiang bangunan dan kerangka atap murni menggunakan kayu jati kualitas unggul. Sesuai dengan pakem tradisi Jawa, dalam upacara mendirikan bangunan itu, juga ditanam beberapa bilah emas dan tembaga dalam kayu bangunan.

“Dengan adanya bangunan pendapa baru ini, Insya Allah suasana kerja perangkat desa menjadi ayem dan sejuk. Warga atau tamu yang datang juga menjadi lebih nyaman bernaung di bawah pendapa yang bernuansa Jawa ini,” tutur Win Bawang saat ditemui di kantor Balai Desa Tlobo pertengahan Agustus 2021 ini.
Menurutnya, selain hal tersebut, pembangunan pendapa itu juga merupakan wujud dari misi dan visi desa yang sangat luhur. Yaitu nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa yang sangat eksotik. Karena bangunan pendapa sarat dengan nilai-nilai filosofis positif yang sangat tinggi.

“Dan yang jelas, semua perangkat desa Tlobo khususnya, serta warga desa Tloba umumnya bisa lebih pede (percaya diri) dalam menerima tamu dari manapun. Baik tamu dari kalangan pejabat ataupun dari masyarakat biasa,” jelas Win Bawang lagi sambil menunjukkan proses pembangunan pendapa di halaman depan balai desa Tlobo.
Saat upacara mengawali pembangunan pendapa dilaksanakan, dilakukan ritual penting, yaitu pecah telur. Telur angsa sebanyak tujuh butir dipecah di beberapa sudut calon bangunan. Sebagian di tengah, serta beberapa titik yang dianggap wingit lainnya.

Tak lupa beberapa cok bakal atau sesaji juga disajikan. Hal tersebut sebagai simbol agar pembangunan pendapa bisa berjalan lancar, aman, dan kondusif tanpa gangguan apapun. Baik gangguan teknis atau gangguan spiritual lainnya.
Hari untuk mengawali pembangunan dipilih pada hari Sabtu Kliwon. Hari Sabtu Kliwon dianggap sebagai hari baik untuk mengawali pembangunan. Terutama bangunan yang digunakan untuk kepentingan umum.(ADV)
Sumber: www.majalahkisahnyata.com















