SEBUAH CANDI KUNO MEGAH SEBESAR PRAMBANAN DIDUGA PERNAH BERDIRI DI DESA MUSUK-Aksi Tim FBM Melacak Jejak Mataram Kuno di Lereng Merapi-Merbabu (II)…

KUSUMO PUTRO MEMIMPIN LANGSUNG TIM KECIL FBM DI LOKASI TEMUAN BATU TAONAN (25/05/2021)

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Boyolali– Selain temuan batu di desa Nepen, Teras yang bernama Watu Suweng, ternyata di desa Musuk, Musuk, Boyolali juga menyimpan fenomena yang sama. Ratusan bahkan mungkin ribuan batu yang (diduga) merupakan benda cagar budaya, berserakan mengenaskan tanpa adanya perhatian dari dinas terkait. Bagaimana kondisinya?

Terletak persis di belakang SMPN I Musuk, Musuk Boyolali, Jateng, beberapa batu besar terlihat berserakan tak tertata. Bahkan beberapa sudah ditumbuhi lumut. Jika dihitung mungkin ada ratusan, termasuk batu-batu kecil yang tersembunyi di antara semak-semak, ilalang, dan dedaunan kering.

“Padahal melihat dari wujud fisiknya, batu-batu ini diduga kuat merupakan peninggalan Jaman kuno. Atau dengan kata lain layak dimasukkan ke dalam kategori benda-benda, yang seharusnya mendapat perlindungan UU Cagar Budaya,” jelas BRM Kusumo Putro SH,MH, yang mewakili tim Forum Budaya Mataram (FBM) saat mengunjungi lokasi temuan batu tersebut.

BATU UNIK SEPERTI TERATAI ATAU BUNGA MATAHARI

Ciri menonjol dari batu-batu tersebut adalah berukuran besar-besar. Bahkan ada yang berbentuk balok seperti menhir dalam posisi berdiri. Beberapa ada yang sempat ditata berjejer oleh warga setempat.

Namun sebagian besar lainnya berserakan tidak teratur. Terutama batu-batu yang berukuran sangat besar, dan tentu saja beratnya bisa mencapai hitungan ton. Sehingga memang sangat sulit untuk diangkat atau dipindah.

Warga setempat, atau tepatnya warga dukuh Tampir sering menyebut lokasi batu-batu itu dengan nama Kebon Taonan, atau Batu Taonan. Entah apa arti dan maksud sebenarnya dari sebutan itu. Namun yang pasti, mayoritas warga percaya bahwa lokasi itu dikenal sangat wingit atau angker.

DIPERKIRAKAN MERUPAKAN PENINGGALAN PERADABAN HINDU KUNO

“Setelah pukul 16.00 sore, warga jarang ada yang berani masuk ke lokasi atau kawasan kebun taonan itu. Karena memang percaya sangat angker atau wingit. Apalagi waktu senja menjelang malam, dipercaya sebagai masa transisi antara dunia gaib dan nyata,” ujar salah satu warga yang kebetulan rumahnya dekat dengan lokasi kebun taonan.

Terlepas dari cerita mitos tersebut, banyak kejadian memprihatinkan yang terjadi di kebun taonan tersebut. Misalnya sudah puluhan tahun, warga melihat beberapa kali ada orang yang mengambil batu-batu tersebut. Yang paling sering dengan membawa mobil bak terbuka. Bahkan yang lebih nekad, ada yang mengambil dengan membawa bronjong atau kranjang sepeda motor.

Jika kegiatan tersebut dibiarkan secara terus menerus, cepat atau lambat, keaslian dan keberadaan benda-benda, atau batu kuno tersebut akan hilang tanpa bekas. Bahkan menurut cerita warga, dulu juga sempat ada beberapa arca atau patung binatang dari batuan kuno di lokasi. Namun oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung-jawan, keberadaan arca tersebut raib tanpa bekas.

BATU-BATU KOTAK BALOK RATA-RATA BERUKURAN BESAR

Uniknya, secara umum mayoritas masyarakat sekitar, juga tidak mencegah aksi-aksi pengambilan batu secara liar tersebut. Hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor. Misalnya ketidak-tahuan masyarakat akan arti pentingnya benda-benda yang diduga merupakan benda cagar budaya tersebut.

Selain itu, warga juga tidak tahu pasti, siapa sebenarnya orang-orang atau pihak yang telah secara diam-diam mengangkuti batu-batu tersebut. Selama ini mereka mengira, orang-orang itu memang pihak yang sengaja membeli (menebas), hasil kebun di lahan dimana lokasi batu-batu tersebut berserakan. Ada juga yang mengira, mereka justru orang-orang resmi dari dinas-dinas pemerintah daerah setempat.

“Apalagi, mitos dan cerita kuat yang terlanjur melekat kuat. Bahwa di kawasan kebun taonan itu, adalah tempat wingit dan angker. Sehingga jauh lebih baik menghindari, atau menjauhi lokasi tersebut meskipun ada orang-orang asing masuk ke sana dengan segala kepentingannya,” papar Kusumo yang juga sebagai ketua FBM dan DPPSBI (Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia) Jateng ini.

TIM FBM SEDANG MEMBERSIHKAN BATU DARI KOTORAN DEDAUNAN

Ironisnya lagi, lokasi batu-batu bersejarah tersebut tepat berada di belakang sebuah sekolah milik pemerintah, yaitu SMPN I Musuk. Sebuah lembaga pendidikan resmi pemerintah, yang secara akademis tentunya wajib tahu akan arti penting dari keberadaan batu-batu tersebut. Namun nyatanya justru tidak ada perhatian sama sekali. Sehingga nasib batu-batu bersejarah itu hanya tinggal menunggu waktu.

Tim dari FBM sendiri menemukan banyak fakta mencengangkan saat tiba di lokasi. Banyak batu-batu dengan wujud unik, bahkan terlihat sangat fantastis yang tergeletak atau terbenam ke dalam tanah begitu saja. Misalnya batu dengan ornamen seperti bunga matahari atau bunga teratai dengan ukuran yang sangat besar.

“Batu ini kalau diukur, diameternya sekitar satu meter lebih. Dan di tengahnya ada lingkaran yang mengelilingi sebuah lubang persegi panjang dengan ukuran sekitar 30X30 cm. Bentuknya mirip Lingga ataupun Yoni,” beber Kusumo yang langsung memimpim Tim FBM meluncur ke lokasi temuan batu kebun Taonan tersebut.

SALAH SATU BATU MIRIP LINGGA DI KEBUN TAONAN

Dari hasil referensi sementara yang dipunyai Tim FBM, batu-batu itu kemungkinan besar diduga merupakan peninggalan peradaban Hindu Kuno. Apalagi melihat batu-batu yang mirip bunga matahari. Batu itu mengingatkan lambang swastika yang juga menjadi simbol universal dari pemeluk agama Hindu.

Lokasi batu taonan terletak di dalam area kebun milik warga setempat yang sangat luas. Mungkin sekitar 1 sampai 2 hektar. Didukung wujud batu-batu yang sangat besar. Atau rata-rata berbentuk balok panjang dan persegi berukuran sekitar 70X50 cm dengan ketebalan yang bervariasi. Bahkan ada beberapa batu dengan ukuran panjang hingga 3 meter.

Ratusan batu tersebut letaknya mengelilingi bukit atau kebun seperti pagar halaman atau trap. Sehingga jika saja batu-batu itu memang merupakan bekas bangunan semacam candi, tentu ukurannya sangat besar. Paling tidak sangat besar dan megah seperti ukuran candi Prambanan di Klaten, Jateng.

KUSUMO PUTRO SAAT MENDATANGI BATU BESAR MIRIP MENHIR KUNO

“Masalahnya, sampai saat ini belum diketahui apakah di lokasi ini memang pernah berdiri sebuah bangunan candi kuno. Dan kalau memang benar ada, juga dari abad ke berapa? Di era siapa atau kerajaan apa? Juga untuk kepentingan apa jika memang benar ada bangunan kuno (candi),” papar Kusumo di hadapan beberapa anggota tim dan awak media.

Jika memang benar batu-batu itu adalah batu-batu candi kuno, tentu merupakan situs cagar budaya yang harus dilindungi keberadaannya. Apalagi di tempat yang sangat luas, dan diduga kuat merupakan bangunan kuno yang sangat megah seperti candi Prambanan. Hal ini bisa diraba, jika melihat struktur batu-batu besar itu disusun ulang kembali seperti wujud bangunan aslinya.

Tentu sangat miris dan prihatin, melihat jejak peninggalan besar leluhur bangsa kita hanya dibiarkan mangkrak dan terlantar begitu saja. Padahal dalam UU Cagar Budaya jelas dikatakan bahwa semua pemerintah, baik pusat, provinsi, dan daerah, hukumnya wajib melestarikan dan merawat semua benda yang masuk kategori cagar budaya.

KUSUMO PUTRO SAAT BERSAMA WARGA SEKITAR SITUS KEBUN TAONAN

Terkait hal ini, maka patut diduga bahwa Pemerintah Daerah, Provinsi dan Pemerintah Pusat tidak atau belum mengerti dan paham akan Amanat UU Cagar Budaya.

“Padahal di tempat seperti ini, banyak sekali menyimpan Cerita Sejarah Peradaban. Atau perjalanan awal mula berdirinya bangsa Indonesia yang kita cintai bersama ini. Hal itu wajib diketahui dari generasi ke generasi. Agar anak-anak bangsa paham dan mengerti bagaimana hebat dan luar biasanya Nenek Moyang leluhur bangsanya di masa lalu,” tegas Kusumo lagi.

Dengan banyaknya temuan situs-situs cagar budaya yang tersebar merata di seluruh wilayah Boyolali, maka Pemerintah Kabupaten Boyolali wajib dan harus segera membuat TACB (Team Ahli Cagar Budaya). Mengingat kondisi itu, Kabupaten Boyolali juga sudah layak jika mendapat predikat atau julukan sebagai DAERAH SERIBU SITUS  di Indonesia. (Dia)

Sumber: www.majalahkisahnyata.com

Forum Budaya Mataram & Dewan Pemerhati Dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia Mengapresiasi Langkah Pemkab Boyolali Meriset Situs Watu Genuk…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Boyolali- Dalam beberapa tahun terakhir, hingga bulan November 2021 ini, ratusan situs cagar budaya BACA LEBIH LANJUT.......

MISTERI Arca LEMBU Di Situs WATUGENUK (Kisah-Kisah Aneh Sebelum BPCB Jateng Melakukan Ekskavasi)…

https://www.youtube.com/watch?v=HoUDa4Kl-Ks MAJALAHKISAHNYATA.COM, Boyolali- Beberapa batu penting yang lain, mulai ditemukan di situs Watu Genuk yang BACA LEBIH LANJUT.......

Inilah Alasan MISTIS, Kenapa Kraton SURAKARTA Batal BERDIRI di Sekitar BEKONANG…

https://www.youtube.com/watch?v=fsYsgQo2p0M MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo- Pada tanggal 17 Februari 1745 (Masehi), Kraton Kartosuro pindah ke desa Sala. BACA LEBIH LANJUT.......

Begini Nasib SITUS PATIRTAN di Wonolelo Yang MAKIN MERANA-Aksi Tim FBM Melacak Jejak Mataram Kuno di Lereng Merapi-Merbabu (IV)…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Magelang- Terjebak di tengah proyek penambangan pasir, sebuah situs patirtan kuno semakin merana nasibnya. BACA LEBIH LANJUT.......

Senopati Mataram… Siap Kawal dan Jaga Tradisi Adat Budaya Nusantara…

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo: Hidangan soto segar dan atraksi kesenian Reog, disajikan dalam sebuah acara Halal-Bihalal di BACA LEBIH LANJUT.......

Inilah Sederet Fakta Yang Belum Menguatkan Solo Sebagai Kota Budaya dan The Spirit Of Java..

MAJALAHKISAHNYATA.COM, Solo: Sebutan sebagai kota budaya, sudah lama melekat untuk kota Solo atau Surakarta, Jateng. BACA LEBIH LANJUT.......

About admin 304 Articles
Mapag Pedhut

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*